"Situasinya saat ini memang sulit bagi sawit kita. Tidak bisa dipungkiri harga minyak turun telah membuat semua komoditas turun. Saya paham betul TBS (Tandan Buah Segar) turun begitu rendah," kata Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit, Bayu Krisnamurthi, di acara Focus Group Discussion, di Menara Kadin, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (4/9/2015).
Harga CPO saat ini sekitar US$ 400 per metrik ton, sedangkan pada Juli lalu harganya masih berada di level US$ 600-700 per mentrik ton. Faktor utama turunnya harga CPO ini, karena ekonomi China yang sedang lesu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal kata Bayu, produksi sawit dalam negeri sedang bagus-bagusnya, akibat permintaan turun, harga CPO dan sawit turun, produksi sawit berlimpah.
"Produksi sawit kita sedang bagus, 2014 iklim bagus, jadi tahun ini bagus. Kita sedang over supply, tangki-tangki kita pada penuh," katanya.
Kondisi ini juga berpengaruh pada ekspor impor Indonesia, di mana 10% pendapatan ekspor Indonesia berasal dari ekspor sawit.
"10% pendapatan ekspor kita datang dari sawit, ekspor kita US$ 19-20 miliar. Tapi sebenarnya, walau kondisi harga sedang rendah sekalipun, pendapatan lebih tinggi dibanding petani lainnya. Petani sawit pendapatannya 7 kali lebih tinggi dari petani. Jelas ini sawit pengurangan kemiskinannya nyata sekali," tutup Bayu.
(rrd/hen)











































