Harga Gas di RI Tak Kunjung Turun, Ini Kata SKK Migas

Harga Gas di RI Tak Kunjung Turun, Ini Kata SKK Migas

Michael Agustinus - detikFinance
Sabtu, 05 Sep 2015 09:34 WIB
Harga Gas di RI Tak Kunjung Turun, Ini Kata SKK Migas
Bogor - Harga gas bumi sedang terjun mengikuti kejatuhan harga minyak bumi yang kini sudah di bawah US$ 50 per barel. Meski harga gas bumi turun namun hal ini tidak berdampak terhadap harga gas untuk kebutuhan di domestik.

Harga gas untuk kebutuhan domestik masih tinggi dan tidak ikut turun. Hal ini diprotes oleh para pelaku industri di dalam negeri yang konsumsi gasnya tinggi, misalnya industri baja, industri kaca, industri keramik. Sebetulnya apa penyebab harga gas domestik masih tinggi sedangkan harga gas di pasar ekspor turun?

Satuan Kerja Khusus Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menjelaskan bahwa anomali ini terjadi karena harga gas untuk domestik tidak mengacu kepada Indonesian Crude Price (ICP) atau harga minyak mentah Indonesia. Berdasarkan kontrak jual-beli dengan para produsen, harga gas untuk domestik berlaku tetap (fixed) sehingga tidak terpengaruh naik turunnya harga minyak dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Harga gas kita tidak berlaku harga crude (ICP) untuk domestik, harga crude itu berlaku untuk ekspor," kata Kepala Bagian Humas SKK Migas, Elan Biantoro, dalam Media Gathering Total E&P di Hotel Aston, Bogor, Sabtu (5/9/2015).

Dia menerangkan, harga gas untuk ekspor kini murah hingga terkadang bahkan lebih murah dari harga gas yang dijual ke dalam negeri karena dampak jatuhnya harga minyak dunia.

"Sekarang karena harga crude-nya murah maka harga ekspornya cuma US$ 7 per MMBTU. Dulu harga ekspor kita sampai USD 16 per MMBTU karena harga crude-nya (ICP) US$ 100 per barel," paparnya.

Menurut dia, harusnya industri di dalam negeri tak protes karena dulu harga gas domestik jauh di bawah harga ekspor ketika ditetapkan, sebab saat itu harga minyak dunia masih melambung tinggi.

"Sekarang yang di domestik minta ikut turun seperti harga crude, namanya itu post bidding. Harga domestik dulu sudah kita kasih harga di bawah crude, waktu itu harga crude masih tinggi. Sekarang harga crude turun, domestik juga minta turun," ucapnya.

Elan menambahkan, pihaknya mau saja menurunkan harga gas untuk kebutuhan dalam negeri. Namun, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang bertindak sebagai produsen belum tentu bersedia menurunkan harga gasnya.

"Kalau negara sih siap saja, tapi penghasil gasnya bagaimana? Mereka hitungan bisnisnya sudah begitu. Mau nggak mereka menurunkan harga gas? Itu yang tidak mudah," tukasnya.

Lebih lanjut, Elan membantah harga gas yang dijual ke dalam negeri lebih mahal daripada yang dijual ke luar negeri. Secara umum, katanya, harga gas untuk domestik masih lebih murah ketimbang harga gas yang diekspor.

"Secara umum masih banyak yang di bawah harga ekspor. Masih ada yang US$ 3 (untuk domestik) karena sudah ditandatangani beberapa tahun lalu. Kalau untuk PLN, pabrik pupuk harganya disubsidi. Tapi kalau sudah mengikat harga US$ 8-9 per mmbtu ya nggak bisa nego," tutupnya.

(feb/feb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads