Dari proyek tersebut, negara berpotensi menerima tambahan pendapatan dari hulu migas Rp 148 triliun.
"Penerimaan negara diproyeksikan mencapai US$ 10,552 miliar atau sekitar Rp 148 triliun," kata Kepala Humas SKK Migas, Elan Biantoro dalam keterangannya, Minggu (6/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Put on Production (PoP) Sumur Gulamo North-01, Blok Rokan yang dikelola PT Chevron Pacific Indonesia, dengan investasi US$ 1,2 juta yang akan menambah produksi sebesar 150 barel minyak per hari pada 2015.
- Plan of Development (PoD) Pertama, Lapangan Parit Minyak, Blok Kisaran yang dikelola Pacific Oil & Gas, dengan investasi US$ 53,5 juta yang berproduksi 1.300 barel minyak per hari pada 2016.
- Plan of Further Development (PoFD) Lapangan Foxtrot, Blok ONWJ yang dikelola PHE ONWJ dengan investasi US$ 425,5 juta, yang akan berproduksi sebesar 11.000 barel minyak per hari dan 12 juta kaki kubik gas per hari pada 2019.
- Revisi PoD Lapangan Tiung BiruβJambaran, Blok Cepu, dengan operator PT Pertamina EP Cepu dengan investasi US$ 2,056 miliar, yang berproduksi sebesar 315 juta kubik gas bumi per hari dan 1.300 barel minyak per hari pada 2020.
Elan menambahkan, SKK Migas telah menerima pengajuan revisi PoD Lapangan Abadi, Blok Masela dari INPEX pada pada Rabu, 2 September 2015 lalu. Dalam revisi PoD tersebut, INPEX mengajukan fasilitas gas alam cair terapung dengan kapasitas pengolahan hingga 7,5 juta ton per tahun.
"Pembahasan dilakukan secara intensif agar rekomendasi persetujuan dapat segera diberikan kepada Menteri ESDM," kata Elan.
(rrd/hen)











































