Menteri ESDM Sudirman Said menjelaskan, target 35.000 MW bukan tiba-tiba muncul dan jadi target Presiden Joko Widodo (Jokowi). Jumlah itu berdasarkan perhitungan yang valid dengan memperhitungkan pertumbuhan konsumsi listrik dari tahun ke tahun, pertumbuhan ekonomi dan sebagainya.
"Saya selaku penanggung jawab sektor kelistrikan, kemudian ditugasi oleh pemerintah, tentunya pemerintah pasti memutuskan dengan hitung-hitungan yang valid," ujar Sudirman Said dihubungi detikFinance, Selasa (8/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi saya sebagai penanggung jawab di sektor ini, akan terus menggunakan angka 35.000 MW sebagai patokan, sebagai target, melakukan berbagai upaya dan usaha agar target tersebut bisa tercapai," ujarnya.
"Agar bisa tercapai, kita terus berkoordinasi dengan para gubernur, para bupati, koordinasi antar kementerian lain, dengan Kementerian Kehutanan, Kementerian Agraria, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Keuangan, Kementerian BUMN, supaya semuanya bahu membahu mencapai target tersebut," tambah Sudirman.
Sudirman menegaskan, bagi banyak pihak yang meragukan proyek 35.000 MW, mungkin mereka tak sadar bahwa rakyat Indonesia butuh banyak listrik, puluhan juta rakyat Indonesia masih menunggu rumahnya dialiri listrik, di beberapa daerah kekurangan listrik.
"Pertanyaannya apakah listrik kita cukup? Banyak rakyat Indonesia menunggu dapat listrik, kita butuh listrik, banyak rakyat kita belum nikmati listrik. Kalau bilang meragukan 35.000 MW datanya dari mana? Datanya valid?" tanya Sudirman.
"Seperti saya bilang tadi, kalau ada orang punya data mari duduk bersama, bahas bersama. Jangan belum matang, belum diklarifikasi, belum didalami sudah disampaikan ke publik. Jangan terburu-buru melompat ambil kesimpulan," tutup Sudirman.
(rrd/dnl)










































