Banyak Pesawat Pilih Singapura, Jokowi Minta Pertamina Turunkan Harga Avtur

Banyak Pesawat Pilih Singapura, Jokowi Minta Pertamina Turunkan Harga Avtur

Maikel Jefriando - detikFinance
Selasa, 08 Sep 2015 17:11 WIB
Banyak Pesawat Pilih Singapura, Jokowi Minta Pertamina Turunkan Harga Avtur
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggelar rapat kabinet terbatas (ratas) untuk membahas persoalan Bahan Bakar Minyak (BBM). Salah satunya, terkait harga avtur yang diberlakukan oleh PT Pertamina (Persero).

Rapat yang berlangsung sekitar satu jam tersebut dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menko Maritim Rizal Ramli, dan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro.

Kemudian hadir Menteri ESDM Sudirman Said, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Seskab Pramono Anung, dan Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam jumpa pers usai rapat, Pramono Anung menyampaikan, Jokowi meminta Pertamina menurunkan harga Avtur. Sebab harga yang dijual Pertamina sekarang lebih tinggi dari harga Internasional.

"Karena kan avtur kita lebih tinggi dibandingkan dengan avtur internasional, maka presiden menugaskan pada Pertamina agar ini bisa ditekan, sehingga harga bisa bersaing dengan internasional," ungkap Pramono di Kantor Presiden‎, Jakarta, Selasa (8/9/2015)

Hal ini juga yang menyebabkan banyak pesawat berhenti di Singapura sebelum menuju Indonesia. Karena harga avtur yang dijual di Singapura lebih murah. Namun tidak dijelaskan berapa harga avtur yang dijual Pertamina dan berapa yang dijual di Singapura.

"Manfaatnya adalah pesawat-pesawat yang saat ini selalu transit di Singapura isi bahan bakar, maka mereka nanti bisa langsung ke Indonesia. Baik dari Emirates, Qatar, Etihad, dan pesawat lain yang perjalanan panjang, terutama dari Eropa. Kalau itu bisa dilakukan, tentunya bisa berikan manfaat bukan hanya dalam dunia penerbangan, tapi juga pariwisata," paparnya.

Selain itu, rapat juga membahas perihal kilang minyak dan kebutuhan dolar Amerika Serikat (AS) yang semakin meningkat oleh Pertamina.

(mkl/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads