"Penyebab harga avtur di Indonesia mahal, karena kilang kita tua. Kalau tua tingkat efisiensinya kurang, sehingga harga pokoknya saja memang lebih tinggi 5% daripada impor," ungkap Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang, kepada detikFinance, Senin (14/9/2015).
Bambang mengatakan, Pertamina di tahun ini menargetkan produksi avtur mencapai 18,8 juta barel atau sekitar 65,6% dari total kebutuhan. Sedangkan 34,4% kebutuhan atau sekitar 9,8 juta barel diimpor dari luar negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, mahalnya avtur Pertamina juga disebabkan banyaknya pajak, ada sewa peralatan (throughput fee/ concession fee) dari Angkasa Pura (AP), selaku pengelola bandara.
"Kita sudah komunikasikan ke AP bisa kah concession fee ini dihapus, ternyata nggak bisa mahal mereka mau biayanya dinaikkan," ucap Bambang.
Pertamina kata Bambang menyadari bahwa harga avtur yang dijual lebih mahal, tapi pihaknya sedang melakukan berbagai upaya agar harga avtur dapat lebih murah.
"Kita akan kobinasikan antara produk kilang dan impor, serta menekan biaya-biaya lain baik dari operasi maupun yang lainnya," tutup Bambang.
(rrd/dnl)











































