Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 14 Sep 2015 15:17 WIB

Selain Pertamina, Swasta Pernah Masuk ke Bisnis Avtur di Bandara

Rista Rama Dhany - detikFinance
Foto: Shell ketika masih pasok avtur di Soetta Foto: Shell ketika masih pasok avtur di Soetta
Jakarta - Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan mewacanakan akan mendorong pihak swasta ikut menjual avtur di bandara-bandara Indonesia, bila harga avtur dari PT Pertamina (Persero) tidak diturunkan. Harga avtur Pertamina diklaim lebih mahal 20% dibandingkan dengan harga internasional.

Sampai saat ini tdak ada larangan bagi perusahaan swasta lokal maupun asing memasok avtur di bandara di Indonesia. Namun, beberapa tahun lalu sudah ada perusahaan minyak Shell asal Belanda atau Shell Aviation pernah masuk ke bisnis avtur, dengan memasok avtur di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta).

Berdasarkan data yang dihimpun detikFinance, pada 1 Oktober 2007 Shell mulai memasok avtur di Soetta. Saat itu, Shell menggunakan tangki-tangki BBM milik Pertamina yang mereka sewa. Namun, terhitung 30 September 2009, Shell Aviation tidak lagi memasok avtur di Bandara Soetta. Sampai saat ini pihak Shell belum dikonfirmasi.

Menurut Pertamina, tutupnya Shell Aviation bukan disebabkan sewa tangki dari Pertamina yang kemahalan.

"Biaya sewa tangki kami ke Shell sama dengan sewa tangki internasional, sudah ada patokannya. Kami juga bayar ke Angkasa Pura II ditambah biaya operasi normal," kata Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang, kepada detikFinance, Senin (14/9/2015).

Bambang mengatakan, mundurnya Shell sebagai pemasok avtur di Bandara Soetta lebih disebabkan sulitnya perusahaan tersebut mendapatkan pasokan avtur yang kompetitif dari SETCO (Perusahaan trading Shell).

"Shell mundur karena tidak bisa mendapatkan suplai harga avtur yang kompetitif dari SETCO dengan biaya yang kompetitif sampai di Soetta. Karena kan ada biaya tambahan tanker, biaya tambahan pompa dan pipa dari laut ke tangki Soetta serta biaya tangki di Soetta.

Ia menambahkan, banyaknya biaya-biaya inilah yang membuat perusahaan swasta enggan menjual avtur di bandara di Indonesia, apalagi itu di luar pajak dan pungutan resmi dari pemerintah seperti dari BPH Migas.

"Ini seperti bisnis SPBU, asing kan boleh-boleh saja jual BBM di Indonesia termasuk avtur. Seperti SPBU Petronas, kenapa dia di Indonesia tidak bisa jual murah BBM-nya mau itu RON 92-95 seperti di Malaysia, kenapa ujungnya mereka justru tutup. Banyak orang membandingkan BBM di Malaysia/Singapura lebih murah daripada di Indonesia. Tapi mengapa Shell/Total tidak bisa jual bensin mereka semurah di negaranya? Tapi kami justru bisa jual lebih murah," tutupnya.

(rrd/dnl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed