"Tambang bawah tanah Antam seperti di Pongkor, produksinya sangat bergantung pada jumlah bijih emas yang dihasilkan tiap harinya. Selain itu, dipengaruhi kadar bijih emas yang ditambang dan kondisi front penambangan. Kondisi dinding tanah yang lunak bisa menjadi penyebab terjadinya ambruk dan menghambat produksi," jelas Arif Armanto, Staf Corporate Secretary PT Antam di UBPE Pongkor Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, pekan lalu.
Data Antam menunjukkan, produksi emas Pongkor berkisar 1,5-2 ton (48.226-64.301 oz) per tahun. Volume produksi tahun 2014 menurun. Volume produksi emas Antam yang berasal dari Pongkor dan Cibaliung pada 2014 tercatat sebesar 2.342 kg (75.297 oz) atau turun 9% dibanding 2013.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bahkan ada lokasi yang kedalamannya sampai 450 meter dari permukaan tanah. Padahal emas yang dihasilkan hanya mampu berkisar 6 gram per ton batuan," jelas Bagus Purbananda, Eksternal Relation UBPE Pongkor.
Tambang Pongkor pernah mencapai posisi puncak produksi pada 2003. Saat itu dalam setahun bisa menghasilkan 4.175 kg emas dengan kandungan 12 gram per ton batuan.
"Kenapa saat ini tidak bisa? Ini salah satu penyebabnya merupakan konsekuensi logis dari tambang emas yang sudah dibuka sejak 1994 dan diperkirakan habis pada 2019 mendatang," jelas Arif.
Secara operasional, lanjut Arif, produksi harus berhenti tahun 2019. Sementara hingga saat ini belum menemukan cadangan baru. "Kalau teman-teman geologist menemukan cadangan baru, bisa dilanjut," imbuhnya.
Harga emas dunia dibanding biaya produksinya pun tidak menggembirakan. "Harga emas dunia saat ini berada di level US$ 1.120/tray ons sementara biaya produksi US$ 1.000-1.100/tray ons. Tipis memang, namun keuntungan bagi kita saat ini karena penjualan pakai mata uang Dolar AS yang sedang naik," ungkap Ibnu Wicaksono, Asisten Manajer Akuntansi UBPE Pongkor.
Meski produksi turun yang ditandai realisasi produksi emas mencapai 94% dari target 2.503 kg (80,473 oz). Justru volume penjualan emas tahun 2014 mencapai 9.978 kg (320.800 oz) naik 6% dibanding 2013 dengan nilai penjualan bersih pada 2014 mencapai Rp 4,90 triliun.
"Produksi emas Antam dari UPBE Cibaliung dan Pongkor setahun bisa mencapai 2,5 ton tapi unit bisnis Antam bisa menjual hingga 9 ton logam mulia. Itu tambahannya dari joint venture atau perseorangan (Trader) melalui trading untuk beli dari Singapura misalnya," terang Tri Hartono, Senior Vice President Corporate Secretary PT Antam Tbk.
Konsekuensi penambangan bawah tanah untuk tujuan menjaga kelestarian lingkungan, menurut Arif, ditambah adanya gurandil atau sebutan bagi penambang emas tradisional ilegal (PETI) kian memberatkan beban perusahaan.
"Nambang di dalam gunung kedalaman 500-700 meter biaya makin besar. Makin ke dalam makin rendah kandungan emas. Kalau di atas makin banyak kandungan dan itu sasaran PETI," katanya.
(hen/hen)











































