Pria lulusan SMA dari Tegal, nekat mencari pekerjaan ke Jakarta dan menjadi buruh bangunan. Sempat menjadi satpam di perusahaan, setelah menikah, bapak empat anak memutuskan mencoba tawaran melamar petugas keamanan di Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor bersamaan dengan baru dibukanya tambang Pongkor pada 1994.
"Awalnya nggak nyangka sama sekali akan ke tambang. Pertama masuk tahun 1994 saat baru-baru dibuka," kata Somaun, di sela-sela acara kunjungan media ke tambang Pongkor pekan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Somaun pun mengikuti proses demi proses hingga akhirnya diangkat menjadi pegawai tetap. "Setelah 3 tahun, saya jadi tenaga ikatan kontrak (TIK). Setelah 3 tahun TIK, diangkat jadi calon pegawai setengah tahun lalu diangkat pegawai," ujarnya.
Ia masih ingat dulu tahun 1994 gaji yang yang terimanya hanya Rp 64.000/bulan. Ia merasa sangat berat saat itu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kini, ia tak lagi mengeluh ketika ditanya gaji saat ini.
"Ya standar BUMN lah, cukup untuk istri dan 4 anak," jawabnya sambil tersenyum lebar.
Dari awalnya seolah 'kepleset' masuk perusahaan tambang. Kini Samuno malah betah dan keenakan. Ia kini tinggal menetap di Pongkor bersama istri dan keempat anaknya.
"Enaknya kerja di tambang ya karena ini perusahaan juga kan BUMN, prospek ke depan ada. Kesehatan dijamin dari istri sampai tiga anak. Saya pernah kecelakaan di luar jam kerja aja ditanggung 100%. Kalau di dalam tambang Alhamdulillah belum pernah ngalamin kecelakaan atau sakit pernapasan," katanya.
Ia pun pernah punya pengalaman menarik ketika sempat ada penambang yang 'menemukan' bongkahan emas di Pongkor. "Ada miner menemukan bongkahan emas. Itu mungkin batu satu kg bisa diambil emas 1 ons. Udah bentuk emas. Keluarnya aja sampai dikawal Brimob. Takut miner lain ikut-ikutan masuk nambang di situ juga kan," tuturnya.
(hen/hen)











































