Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro menyadari masalah itu. Dan menurutnya, jalan keluarnya adalah membangun kilang baru. Bila investor tidak berminat, maka negara siap menggelontorkan dana APBN untuk membangun kilang minyak baru.
"Defisit migas itu ada di BBM dan minyak bumi. Bagaimana mengurangi defisit? Salah satunya adalah membangun kilang minyak," kata Bambang, di acara diskusi "Energi Sebagai Modal Pembangunan" di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (17/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Melihat kondisi tersebut, prospek kilang itu nggak mungkin jelek, pasti bagus. Tinggal pemerintah memfasilitasi. Memang ini proyek jangka panjang, banyak itungannya, IRR (Internal Rate of Return)-nya rendah, tapi harus mulai dari sekarang (bangun kilang)," ungkap Bambang.
"Jangan sampai kabinet selesai, tapi kita nggak pernah bangun kilang. Awal-awalnya doang mengebu-ngebu mau bangun kilang, tapi lama-lama hilang, mending sekarang kita bicara terus, soalnya 2018 kita-kira baru bisa mulai," tambahnya.
Bambang mengungkapkan, pembangunan kilang kunci utamanya ada di PT Pertamina (Persero), bagaimana BUMN ini menjadi offtaker, dapat menggandeng investor dan memastikan hasil kilang yakni BBM pasti terserap di dalam negeri, karena permintaan BBM tersebut meningkat tiap tahunnya.
"Kuncinya di Pertamina, karena harus jadi offtaker. Untuk sampai kita bisa sampai sepakat Indonesia bikin kilang, kita harus pikirin market-nya seperti apa. Kilang harus jadi prioritas kita bersama. Kalau perlu bila tak ada investor, harus pakai duit pemerintah. Kita harus punya ketegasan untuk BBM," tutup Bambang.
Seperti diketahui, Indonesia terakhir kali membangun kilang minyak 21 tahun lalu yakni Kilang Balongan. Selain usia kilang sudah tua, hasil produksinya lebih mahal daripada harga impor.
(rrd/dnl)











































