Batu Bara Anjlok, Menkeu: Pindah ke Bisnis Pembangkit Listrik

Batu Bara Anjlok, Menkeu: Pindah ke Bisnis Pembangkit Listrik

Muhammad Idris - detikFinance
Kamis, 17 Sep 2015 15:47 WIB
Batu Bara Anjlok, Menkeu: Pindah ke Bisnis Pembangkit Listrik
Jakarta - Harga barang komoditas termasuk batu bara tahun ini terus turun, seiring perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Tidak sedikit perusahaan menghentikan produksi, bahkan gulung tikar.

Menteri Keuangan (Menkeu), Bambang Brodjonegoro, punya saran bagi pebisnis batu bara, yakni beralih ke bisnis yang memanfaatkan batu bara, salah satunya pembangkit listrik.

Bambang mengatakan, Indonesia membutuhkan banyak pasokan listrik, perlu dana banyak untuk membangun pembangkit listrik, dan uang negara terbatas. Sementara bila mengandalkan pinjaman dari lembaga keuangan seperti Bank Dunia sulit, karena Bank Dunia tidak mau membiayai proyek pembangkit listrik berbahan bakar batu bara karena masalah lingkungan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tentunya kita dorong keterlibatan sektor swasta. Kondisinya harga batu bara drop, saya berpikir pengusaha batu bara yang sudah punya simpanan dana dari dulu, beralih saja ke bisnis power plan (pembangkit listrik). Batu bara rendah maka pindahlah ke bisnis yang memanfaatkan batu bara. Jadi malah Anda bisa keuntungan yang lumayan, tapi memang butuh capital (dana) yang besar," ungkapnya.

"Apalagi, selama pembangkit listrik yang dibangun swasta di bawah perencanaan PLN, listrik yang dihasilkan harus dibeli PLN. Jadi investasi tetap aman. Apalagi kalau pakai batu bara biaya produksi listrik lebih murah lagi," tambah Bambang.

Ia menambahkan, ke depan pemerintah sedang memikirkan adanya pasokan listrik dan tarif listrik khusus industri.

"Memang suatu saat kita harus pikirkan harga listrik untuk industri, memang ini rencana ke depan. Harus ada perlakuan khusus ke pengguna listrik, yaitu kepada industri, seperti melakukan subsidi terselubung ke industrinya, seperti negara-negara lain," tutup Bambang.

Seperti diketahui, pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) punya program membangun 35.000 MW dalam lima tahun ke depan. Proyek ini diperkirakan memakan biaya investasi sebanyak Rp 1.000 triliun lebih.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads