PT Pertamina (Persero) saat ini menderita kerugian cukup besar dari bisnis penjualan bahan bakar minyak (BBM) dari awal tahun hingga saat ini, jumlahnya sekitar Rp 12,517 triliun. Namun, Pertamina optimistis bisa meraup laba di akhir tahun sebesar US$ 1,5-1,7 miliar atau sekitar Rp 23,8 triliun dengan kurs Rp 14.000/dolar Amerika Serikat (AS).
"Kita optimis untuk target laba bisa US$ 1,5-1,7 miliar tahun ini," ujar Vice President Corporate and communication Pertamina, Wianda Pusponegoro, saat konferensi pers di Kantor Pusat Pertamina, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Jumat (25/9/2015).
Dia menjelaskan, target laba tersebut bisa dicapai dengan melakukan berbagai efisiensi. Tahun ini, Pertamina menargetkan bisa melakukan efisiensi sebesar US$ 500,42 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Efisiensi dilakukan melalui sentralisasi, perubahan pengadaan minyak mentah dan kilang, tata kelola minyak, optimalisasi aset usaha dan corporate case management.
"Bagaimana kita ketatkan ikat pinggang, mulai dari sentralisasi kilang dan mengatur keuangan dengan baik. Kita juga lakukan pembangunan storage BBM 25 ribu KL, salah satunya di Pulau Sambu," sebut dia.
Terkait kerugian Pertamina, Wianda mengaku, hal tersebut terjadi karena Pertamina selama ini menjual rugi BBM.
"Kita tidak pernah menyesuaikan (naikkan) harga BBM sejak April, makanya tadi ada kerugian. Harga keekonomian masih lebih tinggi dibanding harga jual. Pertamina harus diberikan uang untuk bisa mendapatkan kembali penyesuaian uang yang nggak kita dapatkan selama ini. Kalau BPKP mau mengaudit ya monggo, buat kita lebih clear," jelas Wianda.
(drk/rrd)











































