Akibatnya, banyak perusahaan yang mengalami berbagai masalah, mulai dari omzet yang turun, stok produk menumpuk, sampai terpaksa menghentikan operasi sementara.
Beberapa perusahaan tambang di Indonesia rata-rata mengalami hal ini, apalagi ada yang sampai merumahkan karyawan. Tak hanya di dalam negeri, perusahaan tambang kelas dunia juga mulai terimbas rendahnya harga komoditas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga komoditas yang lesu tentu bukan hal yang baik bagi Glencore. Pada penutupan perdagangan Senin waktu setempat, saham Glencore jatuh hampir 30% ke titik terendahnya sepanjang masa.
Kapitalisasi pasarnya terpangkas 3,5 miliar poundsterling (Rp 70 triliun) hanya dalam waktu singkat. Waktu pertama kali jual saham di bursa (IPO), perusahaan meraup dana hingga US$ 10 miliar dan membuat para pemegang sahamnya mendadak jadi miliuner.
Roda berputar, nasib pun berubah. Glencore yang dulu diuntungkan oleh tingginya harga komoditas kini menjadi perusahaan yang terlilit utang senilai US$ 30 miliar (Rp 420 triliun).
Glasenberg pun menghadapi tekanan dari para pemegang saham, untuk memangkas jumlah utang perusahaan tembaga dan batu bara itu. Sebab peringkat utangnya sudah diturunkan berkali-kali oleh lembaga pemeringkat internasional.
Bagaimana caranya? Banyak langkah diambil Glasenberg, mulai dari menyetop pemberian dividen ke pemegang saham, menjual aset, dan lain-lain.
"JIka harga komoditas bertahan di harga rendah seperti sekarang ini, analisa kami, jika mereka (Glencore) tidak lakukan restrukturisasi maka hampir semua nilai modal Glencore dan Anglo American bisa habis," kata analis dari bank investasi Investec yang bermarkas di London, seperti dikutip Reuters, Selasa (29/9/2015).
Glencore sudah meraup US$ 2,5 miliar dari penerbitan saham baru. Saham-saham ini rata-rata dibeli oleh direksi dan karyawan perusahaan untuk menambah kepercayaan pasar terhadap perusahaan.
Pemegang saham terbesar Glencore berdasarkan data Thomson Reuters Eikon yaitu Glasenberg (8,4%) dan Qatar Holding (8,2%). Qatar Holding juga merupakan salah satu pemegang saham kunci di Volkswagen, produsen mobil asal Jerman.
Selain Glencore, perusahaan tambang asal Australia bernama Anglo American juga mengalami masalah yang sama.
(ang/dnl)











































