Raksasa Tambang Dunia Ini Tak Terima Disebut Tumbang

Raksasa Tambang Dunia Ini Tak Terima Disebut Tumbang

Angga Aliya - detikFinance
Rabu, 30 Sep 2015 13:56 WIB
Raksasa Tambang Dunia Ini Tak Terima Disebut Tumbang
London -

Terus melemahnya harga komoditas, mempengaruhi kelangsungan bisnis perusahaan tambang. Sudah banyak perusahaan tambang di Indonesia menghentikan operasi, dan merumahkan pegawainya untuk sementara.

Hal yang sama terjadi juga di luar negeri, salah satunya di raksasa tambang Glencore. Banyak pihak yang memprediksi perusahaan yang bermarkas di Swiss itu sudah di ujung tanduk, dan tak lama lagi kolaps.

Prediksi ini bukan tanpa alasan. Saham Glencore sudah anjlok hingga 29% di perdagangan awal pekan. Meski kemarin sahamnya sudah naik 17%, tapi tetap saja nilainya masih jatuh 73% sepanjang 2015.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekarang harga sahamnya hanya 80 pence (Rp 16.000) per lembar dibandingkan harga pada penawaran umum alias initial public offering (IPO) 5,3 poundsterling (Rp 106.000) hampir lima tahun lalu.

Kendati demikian, manajemen menampik kalau perusahaan sedang dalam masalah serius. "Sama sekali tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan," kata manajemen Glencore dalam keterangan tertulis seperti dikutip CNN, Rabu (30/9/2015).

"Bisnis kami tetap berjalan dan kuat secara finansial. Kami punya arus kas yang positif, likuiditas yang baik, dan tidak ada sama sekali tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan," jelas manajemen.

Jatuhnya harga saham perusahaan terutama disebabkan oleh lesunya bisnis komoditas akibat harga yang terus menukik tajam. Selain itu, berkurangnya permintaan komoditas China membuat omzet perusahaan berkurang.

Beberapa analis memprediksi Glencore akan semakin terpuruk jika bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), menaikkan tingkat suku bunganya.

Begitu bunga AS naik, maka dolar pun semakin tinggi. Rata-rata penjualan komoditas dilakukan memakai dolar AS. Sehingga ketika semakin tinggi dolar, kompensasinya harga komoditas semakin turun.

Selain itu, Glencore juga terlilit utang yang jumlahnya sangat besar. Pinjaman ini didapat Glencore saat booming harga komoditas. Begitu harganya turun, utangnya jadi makin sulit dilunasi.

Akibatnya, Glencore harus menjual aset dan menerbitkan saham baru untuk melunasi utang-utangnya tersebut. Perusahaan-perusahaan tambang raksasa lainnya juga mengalami hal yang hampir sama sengan Glencore.

(ang/wdl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads