Proyek Kalija I Rampung, Pipa PGN Bertambah Jadi 6.470 Km

Proyek Kalija I Rampung, Pipa PGN Bertambah Jadi 6.470 Km

Rista Rama Dhany - detikFinance
Rabu, 07 Okt 2015 11:12 WIB
Proyek Kalija I Rampung, Pipa PGN Bertambah Jadi 6.470 Km
Jakarta - Proyek milik PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) pipa gas Kalimantan-Jawa (Kalija) tahap I dengan total panjang pipa 207 kilometer (km) akhirnya selesai, sehingga bisa memasok gas bumi dari Lapangan Gas Kepodang di laut utara Jawa Tengah ke Pembangkit Listrik Tenaga Gas-Uap (PLTGU) Tambang Lorok, Semarang.

Pengaliran gas tersebut sudah berlangsung sejak akhir Agustus 2015. Pipa Kalija I tersebut dibangun oleh anak usaha PGN, PT Kalimantan Jawa Gas.

Semula, Proyek Pipa Kalija ini sempat mangkrak sejak 2006. Pemerintah kemudian menugaskan PGN untuk melanjutkan pekerjaan yang tak kunjung selesai tersebut pada 2014.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

PGN pun berhasil mempercepat dan mengembangkan pembangunan proyek pipa gas bumi Kalija tahap I tersebut, dengan rincian pipa sepanjang 203 kilometer berada di laut dan 4 kilometer di darat. Selain itu PGN juga membangun stasiun gas di Tambak Lorok.

Head of Corporate Communication PGN Irwan Andri Atmanto mengatakan, rampungnya proyek Pipa Kalija I tersebut, menambah infrastruktur pipa gas bumi PGN sehingga menjadi 6.470 kilometer (km). Jumlah itu setara dengan 70% pipa gas bumi di Indonesia. Hal ini menjadikan PGN sebagai pemain bisnis gas bumi terpenting di Tanah Air.

"Kami berkomitmen tinggi untuk memperluas pemanfaatan gas bumi bagi masyarakat," kata Irwan dalam keterangan tertulisnya, Rabu (7/10/2015).

Selain Pipa Kalija I, kata Irwan, PGN juga membangun dan mengoperasikan pipa gas bumi di wilayah distribusi Jawa Barat, Lampung dan Sumatera Selatan sepanjang 2.707 km.

Rinciannya, Jawa Timur dan Jawa Tengah (785 km), Sumatra Utara dan Kepulauan Riau (761 km), Transmisi Grissik-Duri (536 km), dan Transmisi Grissik-Batam-Singapura (470 km), serta Transmisi South Sumatra West Java sepanjang 1.004 km.

Irwan mengatakan, PGN menargetkan penambahan panjang pipa gas bumi baru sepanjang 490 km hingga akhir 2015. Sesuai rencana, Pipa-pipa tersebut berada di wilayah operasi PGN, semisal Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, Jawa Barat, Banten, Sumatra Utara dan Kepulauan Riau, serta wilayah baru lainnya.

Adapun hingga 2019 nanti, PGN menargetkan membangun pipa-pipa baru sepanjang 4.000 km, baik dalam bentuk perluasan di wilayah operasi maupun di wilayah baru.

PGN adalah satu-satunya badan usaha yang menyalurkan gas bumi untuk berbagai segmen di masyarakat, mulai dari rumah tangga, usaha kecil mikro dan menengah (UMKM), industri, pembangkit listrik, bagi moda transportasi, hingga bagi sektor komersial, semisal mal dan rumah sakit.

Di usianya yang genap setengah abad, kata Irwan, PGN terus bertransformasi. Kegiatan bisnis utama PGN tidak lagi distribusi dan transmisi gas melalui pipa. Saat ini, PGN juga menjalankan produksi lapangan gas, pengaliran gas melalui beragam moda, baik itu melalui pipa, gas alam cair (LNG) maupun dalam bentuk gas bertekanan tinggi (CNG).

"PGN juga terlibat dalam kegiatan hilir seperti engineering, pemeliharaan sistem jaringan pipa gas dan bahkan pengelolaan jaringan serat optik untuk mendukung pengelolaan usaha secara keseluruhan," jelas Irwan.

Awal September lalu, lanjut Irwan, PGN bersama Perusahaan Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) dan PT ASDP juga meneken kesepakatan kerja sama pemanfaatan gas untuk transportasi laut.

Aksi ini bertujuan memperluas pemanfaatan gas di sektor maritim. Kesepakan ini juga merupakan lanjutan dari kerja sama antara PGN dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Hubla) Kementerian Perhubungan, beberapa waktu lalu.

Menurut Irwan, PGN, Pelni dan ASDP saat ini sedang menggelar studi persiapan pengembangan infrastruktur dan teknologi terkait penggunaan bahan bakar gas bumi bagi kapal laut.

"Harapannya 2016 sudah operasional dan kapal-kapal laut sudah konversi ke bahan bakar gas," ujarnya.

Lebih lanjut, kerjasama antara PGN dengan Pelni dan ASDP ini merupakan bentuk sinergi positif di antara BUMN untuk mewujudkan program konversi BBM ke BBG. Sinergi antar BUMN ini diharapkan membuat kinerja BUMN lebih efisien dan bersaing.

Sebagai informasi, saat ini Pelni menggunakan BBM untuk operasional kapal laut miliknya sekitar 33,4 juta liter per bulan. Sementara ASDP sebesar 3,5 juta liter per bulan dan kapal perintis milik Direktorat Jenderal Hubla sebesar 14,4 juta liter per bulan.

(rrd/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads