Di Depan Akademisi, Rizal Ramli Bicara Krisis Energi Hingga Asap

Di Depan Akademisi, Rizal Ramli Bicara Krisis Energi Hingga Asap

Lani Pujiastuti - detikFinance
Rabu, 07 Okt 2015 11:24 WIB
Di Depan Akademisi, Rizal Ramli Bicara Krisis Energi Hingga Asap
Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli pagi ini hadir untuk memberikan keynote speech dalam Seminar Kesiapan Bangsa dan Strategi Menghadapi Krisis Energi Nasional di Djakarta Theater, Rabu (7/10/2015).

Turut hadir Dirjen Penguatan Inovasi Kementerian Riset dan Teknologi Dikti Jumain Appe, serta Dekan Fakultas Teknik Kimia Universitas Diponegoro dan undangan lainnya. Acara ini dalam rangka peringatan Ulang Tahun Teknik Kimia Universitas Diponegoro (Undip) ke-50 yang dihadiri para akademisi.

"Temanya tentang krisis energi. Tapi di seluruh dunia justru terjadi pasokan energi berlimpah dengan harga yang lebih murah. Walaupun ini gejala yang sifatnya cyclical karena 3-4 tahun ke depan meningkat. Barangkali di masa lalu kebijakan energi kita kurang menyeluruh dan jangka panjang. Tidak pernah ada skenario building. Mudah-mudahan para profesor Undip bisa berfikir lebih strategis," kata Rizal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rizal mencontohkan pentingnya mengatasi masalah dengan berbagai terobosan termasuk dalam mengatasi krisis energi. Ia mencontohkan, persoalan asap akibat kebakaran hutan yang setiap tahun terulang di Tanah Air.

"Contohnya asap. Sudah belasan tahun masalahnya begitu terus. Perlu berpikir out of the box. Masalah di Indonesia sudah terlalu complicated, kalau diatasi secara biasa, seperti menarik benang kusut saja," katanya.

Ia mengatakan, Indonesia merupakan negara yang kaya sumber daya alam, seperti hutan, mineral, minyak, batu bara. Namun sayangnya selama berpuluh tahun Indonesia tak memanfaatkan pengembangan sektor hilirnya.

"Awal Orde Baru kita punya hutan paling hebat. Lalu habis dijarah. Lalu dikasih kesempatan lagi minyak bumi sampai ekspor ke seluruh dunia, tapi tidak bisa mengembangkan downstream energinya maka kesempatan itu lewat dan jadi net importir minyak mentah setengah juta barrel dan minyak jadi satu juta barel," katanya.

Selain tak bisa memaksimalkan industri hilir dari sumber daya alam, banyak konsesi eksplorasi diserahkan ke perusahaan asing.

"Ya copper, emas, batu bara, mineral kebanyakan kita kasih ke asing kecuali batu bara. Walaupun cadangannya masih ada 30-40 tahun," katanya.

(hen/rrd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads