"Kemarin saya berbincang dengan Pak Amin (Sunaryadi, Ketua) SKK Migas, datang ke kantor, kita bertukar pikiran untuk cari solusi yang optimum. Ini memang tidak cukup hanya membandingkan ongkos-ongkos, itu pendekatan accounting," kata Rizal, ditemui usai memberikan sambutan dalam acara sidang terbuka wisuda dan Dies Natalis ke-57 Universitas Jayabaya, di Balai Prajurit, Tebet, Jakarta, Kamis (8/10/2015).
"Kami ingin pendekatan ekonomi supaya manfaatmya juga sebesar-besarnya buat rakyat dan bangsa kita khususnya penduduk Maluku. Jadi kalau hanya membandingkan cost-cost (biaya-biaya) itu kerjaan accounting, kita perlu yang lebih komplet daripada sekedar itu," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Rizal sudah 'mengepret' para pejabat Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Menurut Rizal, mereka digaji tinggi, tapi tak mau berpikir independen.
Hal tersebut ia ungkapkan, ketika memberikan keynote speech dalam Seminar Kesiapan Bangsa dan Strategi Menghadapi Krisis Energi Nasional di Djakarta Theatre, Rabu (7/10/2015).
"Kasus ladang (migas) Blok Masela, itu cadangannya sangat besar sekali, sehingga disebut Lapangan Abadi. Kita harus pikirkan bagaimana sumber daya alam gas ini bisa bermanfaat untuk masyarakat sebesar-besarnya. Tapi pejabat-pejabat kita berhasil dibujuk oleh perusahaan asing, saya nggak mau sebut perusahaanya," kata Rizal kemarin.
Rizal mengatakan, perusahaan yang ia maksud mau membangun kilang gas alam cair (LNG) setinggi 3 kali monas di laut.
"Mau bangun floating plant apung setinggi 3 kali monas yang sangat besar. Setelah kami cek angka-angkanya ngawur, pejabat itu hanya terima mentah-mentah kajian asing tanpa kajian sendiri. Ditakut-takuti dekat Ladang Abadi ada palung dalam. Padahal sebenarnya slope itu rendah," ucapnya.
(ang/dnl)











































