Ketua SKK Migas Temui Rizal Ramli Bahas Blok Masela

Ketua SKK Migas Temui Rizal Ramli Bahas Blok Masela

Dana Aditiasari - detikFinance
Kamis, 08 Okt 2015 15:23 WIB
Ketua SKK Migas Temui Rizal Ramli Bahas Blok Masela
Foto: Reuters
Jakarta - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) kena 'kepret' Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli. Pejabat SKK Migas dinilai tidak independen meski gaji sudah tinggi.

Untuk meluruskan 'kepretan' Rizal Ramli tersebut, Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi pun menyambangi kantor pria yang punya julukan Rajawali Ngepret tersebut kemarin.

"Sudah ketemu dari jam 2 sampai jam 3 seperempat. Bertemu, ngobrol masalah (Blok) Masela salah satunya. Beliau (Rizal Ramli) oke-oke saja. Kita ngobrol saja. Gini mungkin, beliau kan ketemu saya baru pertama, mungkin beliau belum tahu konsepnya (konsep pengembangan Blok Masela) secara keseluruhan itu seperti apa," kata Amien ditemui di kantor Dirjen Listrik, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (8/10/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Concern beliau itu bagaimana dampaknya dengan regional development? Terus sudah saya jelaskan, sementara ini idenya begini. Beliau (bilang) itu bagus. Beliau concern nasional capacity building dan local content,"

Blok migas yang berada di Maluku itu saat ini menurut Rizal malah diberikan ke pihak asing yaitu Inpex Corporation. Padahal, manfaatnya banyak bagi masyarakat Indonesia.

Atas dasar ini lah kemudian Rizal menuduh SKK Migas yang tidak independen dan malah mengizinkan asing beroperasi di Blok Masela.

Menteri ESDM Sudirman Said juga berencana menyewa konsultan independen untuk menentukan kilang tersebut dibangun di darat atau di laut.

"Sebenarnya gini, konsultannya ini harus menghasilkan rekomendasi. Nah, rekomendasinya diberikan ke pak menteri ESDM. Pak menteri baca itu kan dan pasti buat keputusan," kata Amien.

"Beliau nggak mengatakan 'saya menentang offshore', tapi mengatakan 'menurut saya lebih baik onshore'. Tapi saya jelaskan recomendasi SKK migas FLNG 7,5 mtpa (juta matrik ton pertahun) dan saya belum ada pemikiran untuk mengubah itu," ujarnya.

(ang/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads