Demikian disampaikan oleh Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Amien Sunaryadi, dalam sambutannya, pada pembukaan konferensi dan pameran minyak dan gas bumi Asia Pasifik (APOGCE) di Nusa Dua, Bali, Selasa (20/10/2015).
Amien menuturkan, naik turunnya harga minyak adalah siklus yang biasa terjadi. Penurunan harga minyak yang begitu rendah setidaknya sudah terjadi 5 kali dalam 30 tahun terakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Adalah penting untuk menyadari sejak awal, bahwa bisnis minyak telah berurusan dengan perubahan dan ketidakpastian. Kita tidak bisa menghindari peristiwa siklus, ketika harga naik dan turun. Ini adalah sifat dari pasar," Amien menambahkan.
Dia menjelaskan, anjloknya harga minyak bumi saat ini didorong oleh beberapa faktor. Pertama adalah peningkatan produksi minyak negara-negara yang bukan anggota OPEC (organisasi negara-negara produsen utama minyak bumi), kedua yaitu tidak tercapainya kesepakatan pengurangan produksi di antara negara-negara anggota OPEC, dan permasalahan-permasalahan geopolitik yang terjadi di dunia, seperti ketegangan politik di Timur Tengah.
"Pasokan meningkat di produsen non-OPEC, kegagalan OPEC untuk menyepakati pengurangan pasokan meskipun harga menurun tajam, dan beberapa masalah geopolitik diduga berperan penting dalam perkembangan-perkembangan terakhir," dia menuturkan.
Penurunan harga minyak, sambung Amien, telah menyebabkan perlambatan kegiatan eksplorasi dan produksi, dan akibatnya telah memberikan dampak negatif bagi banyak sektor industri, serta membawa dunia ke dalam situasi krisis. Karena itu, Amien berharap, tren penurunan harga minyak ini bisa segera berakhir.
"Saya percaya bahwa tidak ada yang mencintai krisis, dan karena itu semua orang ingin menyingkirkan krisis. Kita semua berharap penurunan ini tidak akan terlalu lama," pungkasnya.
(dnl/dnl)











































