"Pasokan listrik kita defisit 30 megawatt (MW), akibatnya kita terpaksa harus memadamkan listrik para pelanggan kita," ucap General Manager PLN Suluttenggo, Baringin Nababan, dihubungi detikFinance, Rabu (21/10/2015).
Baringin mengatakan, pemadaman listrik ini hampir setiap hari terjadi, dan dilakukan secara bergilir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi kondisi ini diperparah dengan musim kemarau saat ini, dan menyebabkan air di Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Tonsea Lama, PLTA Tanggari 1 dan Tanggari 2 berkurang.
"Akibatnya listrik yang dihasilkan, jauh berkurang, hanya sekitar 20-23 megawatt dan PLTA itu juga hanya bisa beroperasi pukul 17.00-20.30. Padahal kondisi normal alias tidak kemarau panjang, listrik yang dihasilkan mencapai 45-47 MW," jelasnya.
Agar tidak memperparah pemadaman listrik warga di Suluttenggo, PLN dengan terpaksa mengantifkan kembali mesin-mesin genset serta mengimbau kepada perusahaan swasta, hotel, dan lainnya untuk mengoperasikan genset mereka.
"Kita terpaksa gunakan kembali genset-genset, tapi kan problemnya, genset ini mesinnya sering terganggu, jadi kita buruh tenaga ekstra lagi harus perbaiki satu per satu mesin genset yang rusak," tutup Baringin.
(rrd/dnl)











































