Direktur Utama PT Timah Sukrisno mengatakan, program tanah jarang yang dimulai pada 2014 sudah beroperasi sebagai pilot plant dengan estimasi produksi 1,5 ton/tahun.
"Sudah berhasil mini plantnya. Artinya sekarang kita sedang mengatur pengembangan supaya bisa jalan dua shift. Tadinya kan satu shift. Sudah berhasil produksi jadi dua kali lipat karena dua shift," kata Sukrisno dalam RDP dengan Komisi VII DPR RI di Gedung DPR, Kamis (21/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pabrik pengolahan rare earth, kata Sukrisno akan dibangun di dekat miniplant dan lahannya sudah siap. "Kita akan buat pabrik baru. Investasi mini plant kan hanya Rp 35 miliar. Paling tidak perkiraan investasi untuk pabrik skala industri yang akan kita bangun sekitar Rp 300-400 miliar.
Kita bangun sebelahan dengan miniplant," jelasnya.
Parik baru, lanjut Sukrisno, rencananya pada 2016 akan mulai menyusun semua rancangan pembangunan fisik. Pembangunan akan memakan waktu sekitar 1,5 tahun. Kalau konstruksi fisik ditender, lalu jalan, akan selesainya 2017," tambahnya.
(rrd/rrd)











































