"Balikpapan butuh US$ 5 miliar dan Cilacap US$ 5 miliar. Berarti total US$ 10 miliar atau setara Rp 135 triliun," kata Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto, saat pemaparan kinerja keuangan triwulan III, di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Kamis (22/10/2015).
Ditargetkan, proyek pengembangan dan peremajaan kilang tersebut bisa selesai dalam 5 tahun ke depan. Karena tingginya investasi dan kecilnya angka Internal Rate on Return (IRR) yang merupakan indikator efisiensi investasi, maka perseroan mengajukan permohonan insentif pajak (tax holliday) ke pemerintah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tempat yang sama, Direktur Pengolahan Pertamina Rachmad Hardadi menyebut, kapasitas produksi kilang Pertamina saat ini sebanyak 850.000 barel per hari. Dengan adanya RDMP di Balikpapan dan Cilacap, kapasitas kilang Pertamina bisa meningkat mengikuti kebutuhan.
"Balikpapan dari 250.000 barel jadi 360.000 barel per hari, Cilacap dari 348.000 jadi 370.000 barel per hari," jelasnya.
Pertamina, kata Hardadi, juga mendapat tambahan produksi dari program Residual Fluid Catalytic Cracker (RFCC) sebanyak 30.000 barel per hari mulai 30 September 2015 dan beroperasinya kilang TPPI yang kini dikelola Pertamina sebanyak 40.000 barel per hari mulai 1 Oktober 2015.
Kapasitas total TPPI baru bisa digenjot di Desember 2015.
"Mereka (TPPI) bisa bekerja dengan full load 100.000 barel per hari," jelasnya.
Pertamina juga memiliki rencana membangun kilang baru (New Grass Root Refinery/NGRR) di Bontang Kalimantan Timur dan Tuban Jawa Timur.
Β
"2 kilang baru east dan west. East di Bontang dan west di Tuban," sebutnya.
(feb/rrd)











































