"PLN, PGN, dan Pertamina telah mengambil sejumlah langkah terobosan untuk memastikan terwujudnya ketahanan energi nasional," Pakar Manajemen Rhenald Kasali mendampingi Menteri BUMN Rini Soemarno saat press conference laporan kinerja BUMN di Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (26/10/2015).
Selama 1 tahun kinerja BUMN di bawah kepemimpinan Menteri BUM Rino Soemarno, tercatat beberapa proyek energi yang mangkrak selama beberapa tahun berhasil diakuisisi dan dimulai oleh BUMN sektor energi. Ada juga pekerjaan proyek energi baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk proyek 35.000 MW era Jokowi hingga Oktober 2015, Kementerian BUMN mencatat 5.944 MW telah tanda tangan kontrak, dengan rician ditangani PLN 995 mw dan Independent Power Plant (IPP) 4.950 MW. Sedangkan dari proyek pembangkit carry over 7.000 MW, PLN telah mengoperasikan 748,2 MW dan IPP sebanyak 735,8 MW.
Β
PLN juga memperoleh tugas mengembangkan transmisi sepanjang 4.617 kilometer (km). Realisasi sampai September 2015, PLN sudah membangun 922 km jaringan transmisi.
"Satu yang ditempuh PLN adalah bergerak cepat membangun pembangkit listrik dalam program 35.000 MW dan 7.000 MW," jelasnya.
Untuk sektor perminyakan, PT Pertamina (Persero) pada Agustus 2015, berhasil mengambil alih kilang minyak milik PT Trans Pacific Petrochemical Indonesia (TPPI) dan mengakuisisi beberapa saham di TPPI.
Alhasil, Pertamina menguasai 48% saham di TPPI. Dengan masuk ke TPPI, Pertamina bisa mengoperasikan kilang tambahan 100.000 barel premium per hari. Kini, kilang baru bisa beroperasi 61.000 barel per hari dari kapasitas maksimal.
Sedangkan, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) juga berhasil mengemban tugas untuk mengambil alih pipa gas yang mangkrak 8 tahun dari Group Bakrie. PGN pada tahun 2014, PGN mengambil alih pengembangan pipa gas Kalimantan-Jawa (Kalija) I, yang menghubungkan lapangan gas Kepodang dan PLTGU Tambak Lorok di Semarang.
Ditargetkan, Oktober ini pengembangan pipa Kalija I telah rampung. Saat beroperasi menyambungkan gas ke PLTGU Tambak Lorok, PLN bisa memangkas biaya konsumsi BBM jenis solar yang selama ini membebani biaya operasional pembangkit.
"Pemerintah dan PLN bisa menghemat Rp 2,1 triliun dari pengadaan solar," ujarnya.
(feb/rrd)











































