"Menurut saya, pengurangan harga energi BBM itu satu dampak langsung mempengaruhi investor melakukan investasi di Indonesia," kata Ekonom DBS Group Research, Gundy Cahyadi, saat acara DBS Asian Insight Media Luncheon, di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Selasa (27/10/2015).
Gundy menilai, penurunan harga solar paling terasa dalam jangka pendek, sedangkan paket kebijakan lain seperti insentif pajak hingga kelonggaran perizinan, dampaknya baru dirasakan terhadap ekonomi Indonesia dalam jangka waktu menengah dan panjang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbeda dengan Indonesia, Thailand justru banyak mengguyur insentif dalam bentuk uang tunai untuk menggairahkan sektor ekonomi dan bisnis di tengah krisis. Insentif uang tunai memberi dampak langsung dalam jangka pendek.
"Beda Thailand, dia efektif. Dia beri stimulus dan agresif naikkan ekonomi," jelasnya.
Pada kesempatan itu, Gundy mengkritik penyerapan investasi atau belanja modal (capital expenditure/capex) pemerintah Indonesia. Di awal tahun, pemerintah mengalokasikan investasi di sektor infrastruktur sangat tinggi. Hal ini sempat memberi angin segar untuk ekonomi Indonesia, namun realiasi belanja modal tersebut masih di bawah target.
"Akhir tahun lalu, Kami DBS optimis terhadap Indonesia. Dalam APBN, capex naik 2 kali lipat. Dengan target ini, ekonomi tumbuh lebih baik, tapi sampai Agustus, penyerapan mengecewakan sehingga belum ada tunjangan (insentif) agar ekonomi membaik ke 2016," ujarnya.
Seperti diketahui, dalam paket kebijakan jilid II, pemerintah menurunkan harga solar dari Rp 6.900/liter menjadi Rp 6.700/liter.
(feb/rrd)











































