Agar industri di Sumut bisa bertahan dan tetap berdaya saing, Kementerian ESDM berjanji akan segera menurunkan harga gas di sana. Ditargetkan, harga gas di Sumut bisa turun US$ 2,5/MMBTU menjadi sekitar US$ 11-12/mmbtu.
"Sumber gas di Sumatera Utara sedang kita formulasikan berbagai skema supaya bisa diturunkan, baik dari sisi hulunya, juga dari transmisi dan distribusinya. Sekarang harganya US$ 13-14/MMBTU sampai di industri. Targetnya bisa turun US$ 2,5 menjadi US 11-12/MMBTU," kata Dirjen Migas Kementerian ESDM, Wiratmaja Puja, usai peresmian Mobile Refueling Unit (MRU) di Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (16/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tetapi, penurunan harga di hulu ini tidak akan merugikan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang mengelola Blok Tangguh, dalam hal ini British Petroleum (BP), karena yang dikurangi adalah bagian pemerintah (government take). Bagian yang diterima KKKS akan tetap sama walau harga gas Tangguh ke Sumut 'didiskon' menjadi US$ 6/mmbtu.
"Kalau di hulunya di atas US$ 6/mmbtu, akan kita turunkan menjadi maksimum US$ 6/mmbtu. Sekarang belinya dari Tangguh masih sekitar US$ 7/MMBTU," ujar Wirat.
Selain itu, Wirat juga meminta Pertamina yang memiliki pipa transmisi âmaupun PGN sebagai pemilik pipa distribusi untuk gas yang dipasok ke industri-industri di Sumut agar melakukan efisiensi. Pertamina dan PGN diminta menurunkan toll fee untuk gas di Sumut.
â"Yang diturunkan di hulu bagian pemerintah, efisiensi Pertamina, juga efisiensi di PGN. Kita bantu sacrifice (pengorbanan) bersama-sama," ucapnya.
Selain itu, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) juga diminta 'berkorban' demi kelangsungan hidup industri di Sumut, yakni dengan menghapus berbagai pajak yang dikenakan untuk penjualan gas bumi ke industri.â "Banyak juga pajak berganda, itu kita usulkan disimplifikasi. Mungkin bisa turun US$ 2,5/MMBTU harga gas di Sumatera Utara," tutup Wirat.
(rrd/rrd)











































