Dalam sidang tersebut, Menteri ESDM Sudirman Said menyampaikan, bahwa ini peristiwa bersejarah bagi Indonesia, untuk bisa berperan dalam inisiatif global keamanan energi dunia.
"Ia adalah terobosan dan jembatan untuk membuat lembaga energi global ini sangat dibutuhkan dunia. Saya berharap Indonesia dapat memainkan perannya dan dapat berkontribusi pada gerakan organisasi ini," ujar Sudirman Said dalam sambutannya di sidang IEA, Paris, seperti termuat dalam keterangan tertulisnya kepada detikFinance, Rabu (18/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Indonesia telah memulai upaya serius untuk reformasi kelembagaan di sektor energi. Kami mereformasi sektor energi kita, membawa transparansi dan profesionalisme dan berkontribusi ke jaringan energi global," ucap Sudirman.
Sebagai anggota baru IEA, Sudirman mengundang anggota IEA ke Bali Clean Energy Forum, yang akan diselenggarakan pada Februari tahun depan.
"Saya berharap kami bisa membawa acara ini sebagai bagian dari program IEA," ujarnya.
Sidang IEA ini dihadiri oleh 43 negara, yang dihadiri sebagian besar oleh menteri-menteri energi dari negara tersebut. Selain itu hadir pula 28 perusahaan energi dari berbagai negara.
Dalam sidang tersebut, negara anggota IEA seperti Selandia Baru, Switzerland, Hongaria, Amerika Serikat dan negara anggota OECD lainnya, menyampaikan pujiannya kepada Indonesia atas berbagai kebijakan reformasi energi yang telah berlangsung selama setahun terakhir.
Dalam sambutannya, Sudirman menyampaikan 5 hal utama yang dilakukan oleh Indonesia dalam mereformasi sektor energinya. Pertama melakukan rasionalisasi terhadap subsidi energi fosil/BBM, kedua, mengatasi aktivitas pencari rente atau mafia minyak yang selama ini menjadikan inefisiensi dalam pengelolaan minyak bumi.
Selanjutnya mempercepat pengembangan energi terbarukan dan konservasi energi, lalu mendorong pengembangan program listrik 35 giga watt (GW), dan mendorong program energi bersih yang berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim
(rrd/hen)










































