Ternyata tak hanya maskapai penerbangan saja yang memilih mengisi avtur (bahan bakar pesawat) di Bandara Changi, Singapura, ternyata kapal-kapal yang berlayar misalnya dari Cilegon ke Bitung, memilih memutar arah ke Singapura untuk beli Marine fuel oil (MFO) atau bahan bakar kapal.
Hal tersebut seperti diungkapkan Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero), Ahmad Bambang, kepada detikFinance, Rabu (25/11/2015).
"Sebenarnya tidak hanya maskapai penerbangan atau pesawat udara yang avtur di Singapura, kapal pun juga beli MFO atau bahan bakar di Singapura, tepatnya di sekitar Selat Malaka," ungkap Bambang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mengapa demikian? Karena setiap avtur, MFO, termasuk bahan bakar kendaraan baik itu premium, pertamax dan lainnya, dikenakan pajak, sementara di Singapura tidak. Makanya harga BBM di Singapura bisa lebih murah," jelas Bambang.
Dia mengungkapkan lagi, pajak yang dimaksud adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB).
"PPN 10%, dan PBBKB 5%, jadi total 15%. Dari sisi ini saja, sudah jelas harga BBM yang dijual di Indonesia lebih mahal 15% dibandingkan di Singapura," terangnya.
Akibatnya, kata Bambang, seperti yang terjadi sampai saat ini, kapal dari Cilegon, Banten mau ke Bitung, Sulawesi Utara, lebih memilih memutar arah ke Selat Malaka terlebih dahulu untuk isi MFO, sebelum ke Bitung.
"Kapal-kapal dari Cilegon mau ke Bitung saja, mending muter ke Selat Malaka untuk isi BBM baik itu jenis HSD atau MFO, baru jalan ke Bitung," tutup Bambang.
Sebelumnya, Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero), Budi Karya, mengungkapkan maskapai di Indonesia yang terbang ke luar negeri lebih memilih mengisi bahan bakar avtur di luar negeri seperti di Bandara Changi, Singapura. Alasannya, karena harga avtur di Singapura jauh lebih murah.
"Karena avtur tinggi (mahal), mereka tetap berangkat dari Jakarta. Kemudian dari Jakarta transit Singapura untuk isi avtur," Kata Budi.
Selisih harga avtur di Indonesia dengan di Singapura, mencapai 17%. Bahkan sebelumnya selisihnya 22%, namun karena ada protes dari maskapai ke Kementerian Perhubungan, harga avtur bisa turun sedikit.
"Sekarang (selisih) dengan Singapura 17%. Sebelumnya 22%," ujarnya. (rrd/ang)











































