"Pasar BBM di Selat Malaka mulai dari MFO, HSD, dan BBM besar sekali, mencapai 46 juta KL per tahun. Pertamina jualan di sana pasti kalah, makanya sebagian besar pasar di sana dikuasasi perusahaan di Singapura," ungkap Direktur Pemasaran PT Pertamina, Ahmad Bambang, kepada detikFinance, Rabu (25/11/2015).
Bambang mengatakan, Pertamina tak mampu bersaing di Selat Malaka, karena kapal-kapal yang mau isi bahan bakar tidak mau membeli MFO atau HSD ke Pertamina, alasannya klasik karena harga Pertamina terlalu mahal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat kondisi ini, pihaknya tidak ingin terus berdiam diri, pasar begitu besar, apalagi yang beli MFO dan HSD sebenarnya sebagian kapal-kapal yang berlayar ke Indonesia. Bambang mengatakan, pihaknya awal tahun lalu sempat memanfaatkan bendera PT Pertamina Energy Trading Limited (Petral).
"Awal Januari saya coba masuk pasar di Selat Malaka pakai bendera Petral. Karena kalau pakai bendera Petral, kita tidak dikenakan pajak PPN dan PBBKB oleh Singapura. Hasilnya? Dalam 3 bulan kita mendapatkan keuntungan US$ 500.000 (Rp 6,8 miliar dengan kurs Rp 13.700). Kita bisa raup profit lebih besar, tapi sekarang Petral dibubarkan, kita tidak bisa jualan lagi," ungkapnya.
Bambang menegaskan, Petral memang memiliki citra yang buruk bagi Pertamina, tapi perusahaan seperti ini bila dikelola dengan benar, maka tentu memberikan keuntungan yang besar bagi BUMN termasuk negara.
"Apakah kita berdiam diri saja melihat di depan mata ada peluang besar, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kapal di Indonesia sendiri malah beli di Singapura, sama perusahaan negara lain, bukan perusahaan Indonesia," tegasnya.
(rrd/hen)











































