Bisnis SPBG Kurang Menarik, Ini Langkah Pemerintah

Bisnis SPBG Kurang Menarik, Ini Langkah Pemerintah

Michael Agustinus - detikFinance
Rabu, 25 Nov 2015 17:42 WIB
Bisnis SPBG Kurang Menarik, Ini Langkah Pemerintah
Jakarta - Bisnis penjualan Bahan Bakar Gas (BBG) saat ini masih kurang menarik bagi perusahaan-perusahaan swasta. Sebab, pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang membutuhkan modal besar tetapi tidak menguntungkan.

Harga BBG yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 3.100/liter setara premium (lsp) juga tidak ekonomis. Harga keekonomian BBG kira-kira Rp 4.500/lsp, maka masih ada selisih Rp 1.400/lsp β€Ždengan harga yang ditetapkan pemerintah.

Kementerian ESDM tak memungkiri bahwa bisnis BBG masih di Indonesia belum menarik. Untuk menggaet pihak swasta masuk ke bisnis ini, Kementerian ESDM kini menyiapkan formulasi agar bisnis BBG memberikan keuntungan layak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekarang margin pengusaha SPBG belum menarik. Bangun SPBG-nya cukup mahal sedangkan harga BBG Rp 3.100/lsp. Sekarang kita lagi diskusi bikin formula supaya swasta tertarik membangun SPBG. Tapi belum tentu harga (BBG) naik, bisa jadi ada alternatif lain," kata Dirjen Migas Kementerian ESDM, Wiratmaja Puja, dalam konferensi pers di Kantornya, Jakarta, Rabu (25/11/2015).

Wiratmaja menjelaskan, ada beberapa alternatif kebijakan untuk membuat bisnis ini lebih menarik di samping menaikkan harga BBG.β€Ž Misalnya dengan menaikkan Investment Rate Return (IRR) SPBG yang saat ini baru 8%. Lalu bisa juga dengan insentif penyediaan lahan untuk SPBG.

"Bisa saja margin diberikan ke mereka (swasta) berdasarkan IRR base. Bisa juga dibuat kerja sama dengan BUMD, disediakan lahan oleh BUMD seperti di Prabumulih, sehingga investasinya hanya pembangunan SPBG, cost-nya turun. Pilihan terakhir harga BBG naik," paparnya.

Kenaikan harga BBG menjadi alternatif paling terakhir karena Kementerian ESDM ingin menjaga harga BBG di kisaran 50-60% dari harga BBM. Bila di atas itu, minat masyarakat untuk berpindah menggunakan BBG bakal berkurang.β€Ž "Maksimal harga BBG 50-60% harga BBM," ungkap Wiratmaja.

Kementerian ESDM juga terus membangun SPBG-SPBG untuk membangun pasar, mendorong penggunaan BBG. Jika permintaan BBG sudah cukup tinggi, tentu swasta akan tertarik untuk membangun SPBG.β€Ž "Sekarang kita bangun dulu SPBG pakai APBN supaya tumbuh dulu pasarnya," tutupnya.

(rrd/rrd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads