Walau Mengurangi Keuntungan, Pengusaha Sawit Dukung Program Biodiesel

Walau Mengurangi Keuntungan, Pengusaha Sawit Dukung Program Biodiesel

Rini Friastuti - detikFinance
Kamis, 26 Nov 2015 12:47 WIB
Walau Mengurangi Keuntungan, Pengusaha Sawit Dukung Program Biodiesel
Nusa Dua - Program mandatori biodiesel 15% diakui para pengusaha dapat mengurangi keuntungan yang didapat perusahaan maupun petani sawit. Namun, dalam jangka panjang program ini akan membawa manfaat besar tidak hanya pengusaha dan petani, tapi juga pemerintah dan masyarakat.

"Dalam jangka pendek kebijakan ini (mandatori biodiesel) akan mengurangi keuntungan petani dan pengusaha hulu perkebunan, namun dalam jangka panjang diharapkan kebijakan ini akan membawa manfaat bagi semua," ujar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono dalam sambutannya di Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2015, di Nusa Dua, Bali, Kamis (26/11/2015).

Manfaat tersebut antara lain akan meningkatkan pemanfaatan minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO) di dalam negeri dan sebagai konsekuensinya, mengurangi pasokan di pasar internasional, sehingga diharapkan harga CPO di pasar internasional akan meningkat. Apalagi kondisi saat ini berbagai harga komoditas termasuk sawit anjlok sejak awal tahun ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hal ini juga mendorong pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak mentah, sekaligus mempromosikan bahan bakar nabati yang terbarukan. Industri akan memiliki pendanaan kuat untuk mendukung program pengembangan SDM, penelitian dan pengembangan, replanting (peremajaan) kebun sawit petani dan promosi minyak sawit berkelanjutan," jelasnya.

Selain dari kebijakan tentang pungutan dan program mandatory Biodiesel 15%, ada perkembangan lain dalam industri minyak sawit. Hal tersebut adalah pembentukan Council of Palm Oil Producer Countries (COPC) antara pemerintah Indonesia dan Malaysia yang bertujuan melakukan koordinasi dan kerjasama pengembangan industri sawit serta memperkuat posisi kedua negara sebagai pemasok sawit terbesar di dunia.

Penandatanganan COPC tersebut telah dilaksanakan di Kuala Lumpur Malaysia pada 21 November 2015. "Kami menyambut baik inisiatif ini karena akan mempererat kerja sama antara sesama negara penghasil minyal sawit, baik secara government to government, maupun business to business," tutup Joko.

Seperti diketahui, program biodiesel ini mewajibkan setiap solar yang dijual di dalam negeri harus mengandung 15% bahan bakar nabati (BBN). Melihat manfaat yang besar dari program ini, pemerintah menargetkan kandungan BBN dalam solar terus meningkat hingga 20%.

(rni/rrd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads