Menurut Sudirman untuk memperbaiki sektor ini, tak harus mengungkap siapa pemburu sang rente, namun cukup membenahi sistem agar para mafia migas ini tak bisa lagi 'bermain'. Selain itu, impor BBM nasional terus dapat ditekan dengan mengandalkan produksi dalam negeri. Salah satunya dengan mengoperasikan kembali kilang Trans Pacific Petroleum Indotama (TPPI), Tuban, Jawa Timur.
"TPPI ini 8 tahun berhenti beroperasi. Itu dijadikan bola-bola, hanya dibicarakan dan nggak pernah diputuskan. Ini persoalan mudah yang hanya dengan common sense, kita bereskan supply, karena banyak pemburu rente. Mereka ingin (rente) Kita terus tergatung impor," kata Menteri ESDM Sudirman Said, dalam jumpa pers, terkait perkembangan terkini pembenahan sektor migas dan proyek migas, di Kantornya, Kuningan, Jakarta, Jumat (27/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Oktober beroperasi, November diresmikan. TPPI beroperasi, negara hemat devisi dari berkurangnya impor BBM sebanyak US$ 2,2 miliar per tahun," ungkap Sudirman.
Tak cukup sampai di situ, untuk makin mempersempit ruang para pemburu rente bermain kata Sudirman, PT Pertamina mempercepat proses pembangunan unit baru di Kilang Minyak Cilacap, yakni Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC).
"RFCC dibangun 4 tahun lalu atau 2011. Sekarang sudah beroperasi penuh, dengan investasi US$ 856 juta atau Rp 11 triliun. Dengan RFCC, kita mengurangi impor premium 15%, impor solar berkurang 30%, dan impor elpiji berkurang 10%," ungkapnya.
Menurut Sudirman yang terpenting, dengan beroperasinya RFCC, maka impor BBM berkurang, dan proses pencampuran BBM bisa dipenuhi dari dalam negeri. Ia memastikan beroperasinya RFCC, PT Pertamina hemat devisi lebih dari US$ 3,5 juta/hari.
"Proyek ini akan membuat security supply, pasokan BBM makin banyak dari dalam negeri sendiri," tambah Sudirman.
Ia menambahkan lagi, proyek-proyek memperkuat suplai pasokan energi dalam negeri untuk mengurangi impor BBM tak berhenti pada dua proyek ini. Pertamina berinisiatif membangun Proyek Langit Biru Cilacap (PLBC) dengan nilai investasi US$ 392 juta.
"Proyek ini selesai dalam 34 bulan ke depan. PLBC ini mengubah produksi Premium ke Pertamax. Ini juga menjalankan rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas, bagaimana menaikkan kualitas dan kebersihan energi yang dikonsumsi. Kapasitasnya dari 14.300 barel jadi 18.600 barel per hari. Pekerjaan 1.500-2.000 orang. Pekerja lokal semua diberi prioritas," ungkapnya.
Proyek selanjutkan kata Sudirman, yakni peningkatan kapasitas dan peremajaan teknologi (RDMP) Kilang Cilacap, Dumai, Balongan, dan Balikpapan.
"RDMP, buat naikkan kompleksitas. Kemampuan hasilakn crude dan produk nilai tambah. Kilang Cilacap mampu olah crude berat. Selama ini kita hindari karena kita nggak mampu. Proyek nilainya US$ 5,5 miliar. Selesai 4 tahun lagi," tutup Sudirman.
(rrd/hen)











































