"Hidrokarbon kita produksi dari Propan yang sama sekali tidak merusak ozon. Sebenarnya kita sudah produksi sejak tahun 2004, tapi penggunaannya belum populer dan masih terbatas," kata Donny Brilianto, Officer Gas Product Marketing, Pertamina, ditemui di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Senin (7/12/2015).
Untuk meluaskan produk refrigen, lanjut Donny, pihaknya sudah melakukan perjanjian kerja sama dengan produsen AC lokal untuk memproduksi AC merek 'I Cool' yang mulai diproduksi massal tahun depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Donny mengatakan, jika sudah ada produsen lokal yang memproduksi AC dengan bahan pendingin Hidrokarbon, kebutuhan refrigeran Hidrokarbon dipastikan akan melonjak.
"Produksi Hidrkarbon kita baru 300-350 ton per tahun. Kalau pasarnya bagus, itu secara bertahap bisa ganti konsumsi Freon. Baru di-launch awal 2016, jadi belum bisa bicara banyak. Soal harga AC produsen nanti yang tentukan, tapi kalau harga refrigeran yang kita jual Rp 60 ribu/kg," terang Donny.
Ia menjelaskan, selain ramah lingkungan, AC dengan refrigeran Hidrokarbon juga terbukti lebih irit dalam pemakaian listrik.
"Karena masa yang sama, Hidrokarbon lebih encer dan ringan daripada Freon, otomatis putaran kompresor lebih ringan sehingga lebih hemat listrik, hematnya sekitar 25%. Soal tingkat kedinginan, juga senyawa ini lebih dingin 2 derajat daripada Freon karena serapan kalornya yang lebih cepat," pungkas Donny.
Ditemui secara terpisah, Vice President Corporate Communication PT Pertamina, Wianda Pusponegoro mengatakan, produk bahan pendingin AC akan mulai diproduksi secara massal pada tahun depan.
"Januari kita mulai yang AC. Sebanarnya sudah banyak dipakai di pendingin di kilang-kilang dan kantor Pertamina," kata Wianda.
(rrd/rrd)











































