Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP Slamet Soebjakto mengatakan, limbah sawit berupa bungkil yang banyak dibuang industri pengolahan kelapa sawit saat banyak dibuang begitu saja.
"Itu (bungkil sawit) potensi luar biasa, kita hanya minta 10% dari limbah pabrik sawit. Kalau dulu maggot (ulat kelapa sawit), sekarang sudah dikembangkan bungkilnya saja, jadi tak perlu repot harus buat maggotnya," ujar Slamet ditemui di kantornya, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Selasa (8/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita pakai regulasi, kita sudah surati ke bupati dan gubernur yang potensinya besar. Minta para bupati gubernur tolong perusahaan sisihkan 10% limbahnya. Hitung-hitung buat CSR (corporate social responsibility) mereka," jelasnya.
Slamet mengungkapkan, saat ini sudah 4 provinsi yang sudah ditetapkan jadi pilot project bungkil sawit untuk pakan ikan yakni Riau, Jambi, Sumatera Utara, dan Kalimantan Barat.
Pakan mandiri dari bungkil sawit ini berbeda dengan program sebelumnya, yakni pakan ikan dari maggot bungkil sawit yang saat ini tak lagi diteruskan.
"Kalau pakai bungkil sawit saja sudah bisa hasilkan protein sekitar 42%. Kalau dulu pakai maggot sekarang bungkilnya saja. Dulu yang maggot berhenti, karena kebutuhan limbahnya besar akhirnya malah membuat harga bungkil sawit jadi mahal," katanya.
(hen/hen)











































