"Kita tergantung kilang di Singapura," kata Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Dwi Soetjipto, dalam acara Forum BUMN di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Kamis (10/12/2015).
Berbeda dengan Indonesia, kebutuhan BBM di Singapura hanya 150.000 barel per hari, sedangkan Singapura memiliki kilang dengan kapasitas 1,3 juta barel per hari. Artinya, kelebihan kilang itu dipakai memasok BBM di luar negeri, seperti ke Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indonesia, lanjut Dwi, praktis tidak menambah atau membangun kilang baru selama hampir 25 tahun. Kondisi ini bukan tanpa sebab.
"Kita dicekoki citra bangun kilang nggak ekonomis. Masa lalu, bangun kilang berdebat ekonomis atau nggak. Akibatnya, 25 tahun tidak ada kilang baru," ujarnya.
Alhasil, Pertamina memiliki program pembangunan kilang baru untuk mendukung kemandirian energi. Saat ini, Pertamina juga berhasil memperoleh tambahan kemampuan mengolah minyak dari pengoperasian kilang TPPI hingga program Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC).
"Sekarang kemampuan kilang kami jadi 880.000 barel. Ini tambahan dari TPPI dan RFCC," tambahnya.
(feb/dnl)











































