Direktur Utama PT Pertamina Dwi Soetjipto mengungkapkan, anjloknya harga minyak dunia berpengaruh terhadap pendapatan di sektor hulu migas. Namun dengan beberapa langkah inisiatif hulu, seperti cost effectiveness, optimalisasi aset dan penciptaan nilai tambah, BUMN energi ini mampu meningkatkan produksi migasnya.
"Produksi migas mencapai 584.320 barel setara minyak per hari (BOEPD), lebih tinggi 11,3 % pada periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 524.940 BOEPD," ujar Dwi, dalam keterangannya, Kamis (10/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di tengah situasi yang sangat menantang, hingga akhir Oktober 2015 Pertamina mampu melakukan efisiensi sebesar US$1,278 miliar dan berhasil meraih laba bersih sebesar US$1,39 miliar," ungkapnya.
Pertamina kata Dwi saat ini terus menggenjot kinerja bisnis hilir yang merupakan etalase perusahaan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Sejumlah produk berhasil diluncurkan, seperti Pertalite, yang kini tersebar di 1.931 SPBU di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, DKI Jakarta & Jawa Barat, Jawa Tengah & DIY, Jawa Timur dan Bali, Kalimantan, Sulawesi.
Inovasi juga dilakukan pada produk elpiji, yaitu Bright Gas 5,5 kg dengan penetrasi pasar secara intensif melalui inovasi layanan home delivery serta online marketing BRIGHT GAS. Varian baru dari Bright Gas.
Β
Di BBM Industri, perusahaan berhasil menjaring pelanggan-pelanggan baru, di antaranya yang terbesar adalah kontrak jangka panjang dengan Adaro hingga 2022, sebesar 550 ribu KL atau setara dengan revenue sekitar Rp 3 triliun per tahun.
(rrd/hen)











































