Keberlanjutan operasi tambang milik PT Freeport Indonesia di Papua masih masih menjadi polemik. Terlepas dari pro kontra tersebut, ekonom Emil Salim berpesan dua hal.
Pertama, pengelolaan sumberdaya alam berupa hasil tambang harus berperan meningkatkan kapasitas dan pendidikan penduduk Papua. Emil Salim ingin warga Papua punya kesempatan dan kemampuan menjadi ahli-ahli pertambangan untuk mengelola kekayaan alamnya sendiri.
"Penambangan tembaga dan emas itu mengurangi resources. Sekali digali maka tidak akan kembali. Kekayaan alam harus untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Bukan hanya untuk generasi sekarang tapi juga untuk generasi mendatang," kata Emil Salim ditemui di Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Jumat (11/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harus berguna untuk kepandaian ilmu peduduk Papua. Jadi kalau tambangnya habis, maka orang Papua sudah pintar. Jadi hasil dari kegiatan pertambangan harus diinvestasikan ke peningkatan kapasitas diri penduduk Papua. Teknisi ahli-ahlinya harus dididik dari orang Papua," tambahnya.
Emil Salim mencontohkan kemampuan penduduk Papua untuk dididik hingga menjuarai olimpiade sains tingkat internasional.
"Profesor Fisika Yohanes Surya saja bisa membuat anak Papua juara olimpiade sains internasional. Artinya, manusia Papua itu kalau dididik sebetulnya bisa. Maka hasil dari kekayaan alam Papua harus berperan untuk mendidik anak Papua di dalam manajemen, insinyur, insinyur, ahli-ahli. Jadi tambang habis diganti modal otak," jelasnya.
Kedua, menurut Emil Salim, lubang galian akan tetap menyisakan lubang besar di bumi Papua. Apapun namanya, baik kontrak karya atau perizinan, menurutnya yang penting penciptaan nilai tambah. Emil Salim juga mengkritik rencana PT Freeport membangun smelter di Gresik.
"Maka untuk mengelola sumber daya harus berpikir menghasilkan value added atau hilirisasi. Smelter jangan di Gresik, tapi di Papua. Buat apa di Gresik? Bangunlah di Papua. Nanti kalau tembaga dan emas habis, kan tinggal berfikir bagaimana menghasilkan produk turunan atau produk hilir," tuturnya.
Hilirisasi menurutnya menjadi kunci penting keberlanjutan manfaat pengelolaan hasil tambang di Papua. Ongkos produksi semestinya bukan menjadi alasan untuk tidak membangun smelter di Papua. Hilirisasi bisa mengubah sumberdaya alam tidak terbarukan menjadi terbarukan.
"Saya tahu orang bilang ongkos tinggi, tapi apa ongkos gali lubang itu tidak diperhitungkan," tambahnya.
Emil Salim juga mempertanyakan rencana kegiatan pasca tambang PT Freeport. Menurutnya bekas galian tambang PT Freeport tidak bisa dibiarkan menganga.
"Pertanyaan berikutnya, bekas galian sumberdaya yang tidak terbarukan di Papua ini akan menjadi apa? Tetap tanahnya harus sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sampai ke 2016 lalu 2020 dan seterusnya. Lubang juga harus ada rencana pemanfaatan di masa depan. Ini harus jadi bagian dari renegosiasi," jelasnya.
Emil mengatakan, di Jerman lahan bekas tambang dimanfaatkan untuk pariwisata. Lahan bekas tambang emas diubah menjadi daua buatan dan jadi destinasi wisata.
"Saya pernah ke sebuah danau di Jerman, saya tanya ini dulunya apa? Ternyata bekas tambang. Jerman kan banyak batubara, bekas lahannya jadi danau buatan dan sentra pertambangan. Setiap pertambangan, seperti lubang di Papua itu harus jelas rencana pemanfaatan di masa depan," pungkasnya.
(hns/hns)











































