Hal tersebut seperti diungkapkan Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto, di acara Refining Day 2015, bertema 'Inovasi Untuk Negeri', di Ballroom Gedung Utama Kantor Pusat Pertamina, Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Selasa (15/12/2015).
"Pertamina menargetkan pemanfaatan energi dari dalam negeri yang lebih besar. Saat ini, kapasitas kilang kita baru 800.000-an barel per hari (bph). Jadi kita lihat ada jarak sekitar 50% kita impor produk (BBM). Dari kapasitas tersebut, produksi minyak mentah Pertamina hanya 300.000-an bph. Tapi kita bisa beli dari domestik (perusahaan hulu migas di Indonesia) sekitar 400.000-an bph. Jadi kita masih impor minyak sekitar 50%. Padahal demand kita lumayan besar," ungkap Dwi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami targetkan bisa meningkat jadi 1,9 juta barel setara minyak per hari (boepd) dari saat ini 584.320 boepd," ujar Dwi.
Untuk mencapai target itu, Dwi mengungkapkan, Pertamina membutuhkan tambahan dana investasi hampir 4 kali lipat dari sekarang.
"Sehingga per tahun harus investasi US$ 4 miliar per tahun. Itu berarti Rp 50-60 triliun. Untuk target ke depan, investasi di hulu migas saja butuh Rp 600 triliun," ungkapnya.
Selain dari hulu, Pertamina juga menggelontorkan dana untuk meningkatkan kapasitas kilang minyak yang saat ini mayoritas berusia tua.
"Refinery (kilang minyak), targetnya dari saat ini kapasitas produksinya 880.000 barel per hari, untuk memenuhi kebutuhan BBM pada 2025, kapasitasnya harus naik jadi 2,3 juta barel per hari. Makanya ada 6 proyek RDMP (moderenisasi kilang) masing-masing butuh dana US$ 6 miliar. Jadi kira-kira total US$ 40 miliar untuk refinery yang dibutuhkan," paparnya.
Ia menegaskan, tentu saja kebutuhan pendanaan yang besar ini membutuhkan dana yang besar. Sehingga diharapkan Pertamina berpotensi untuk menaikkan asetnya.
"Sehingga Pertamina bisa dapat pinjaman yang besar," tutup Dwi.
(rrd/hns)











































