Lahirnya Perpres tersebut ternyata mengurai ceritaβ unik bagi Menteri Koordinator Perekonomian (Menko Perekonomian) Darmin Nasution. Ada perdebatan serta halangan untuk menggagalkan rencana pemerintah.
Bahkan, sampai detik-detik terakhir diputuskan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Darmin menceritakan ada perdebatan yang terjadi adalah antara pemerintah dan PT Pertamina persero. Darmin menuturkan ngototnya perusahaan pelat merah tersebut agar pembangunan kilang harus melalui dua jalur.
Pertama, Pertamina ditugaskan negara, dan kedua adalah kerjasama Pertamina dengan investor swasta.
"Kilang itu menarik sekali. Sampai saat terakhir kita mau selesaikan Perpres kilang, pertamina masih bertahan hanya ada dua jalur, pembangunan kilang. Ditugaskan negara, kedua swasta masuk tapi harus join dengan kita," ujarnya.
Darmin kemudian menolak usulan dari Pertamina. Dikarenakan Pertamina, menurutnya tidak efisien dalam pembangunan. Sehingga opsi kerjasama bukanlah pilihan yang teβpat.
"Saya bilang, kalau dipaksa join dengan kalian. Kalian tidak efisien. Sama saja kalian mau menular-nularkan inefisiensi," kata Darmin.
Lalu kemudian akhirnya muncul opsi ketiga, yaitu investasi asing untuk pembangunan kilang bisa mencapai 100%.
β"Swasta boleh sendiri dengan kesepakatan offtakernya Pertamina. Sama seperti di PLN. Sekarang itu akhirnya sudah diterima. Kita tidak pernah mengurusi seperti ini dari dulu. Sehingga takut dicurigai," tukas Darmin
(mkl/hns)











































