Antam Pastikan Siap Beli Saham Divestasi Freeport

Antam Pastikan Siap Beli Saham Divestasi Freeport

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Jumat, 18 Des 2015 19:10 WIB
Antam Pastikan Siap Beli Saham Divestasi Freeport
Tambang Freeport (Foto: dok. detikFinance)
Jakarta - PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) siap untuk membeli saham divestasi PT Freeport Indonesia jika ditunjuk oleh pemerintah.

Saat ini, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sedang menunggu nilai saham divestasi PT Freeport Indonesia yang sudah ditawarkan ke pemerintah. Ada beberapa opsi pembelian yang sudah disiapkan pemerintah. Saat ini, pemerintah sudah pegang 9,36% saham Freeport.

"Jika pemerintah menunjuk BUMN, ya kami sebagai penambang emas ya siap untuk itu di situ," kata Direktur Utama ANTAM Tedy Badrujaman saat ditemui di Kantor Pusat ANTAM, TB Simatupang, Jakarta, Jumat (17/12/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian, Tedy masih enggan menyebutkan besaran investasi yang telah disiapkan untuk membeli saham perusahaan tambang terbesar di Asia Tenggara tersebut.

"Investasi tergantung harga, sudah menjajaki tapi tergantung arahan pemerintah, apakah bersama atau gimana, yang penting saat ditunjuk nanti kita siap," katanya.

Menurut Tedy, pihaknya sebagai penambang emas sudah memiliki berbagai pengalaman dalam mengelola tambang dalam, sama seperti pengelolaan tambang milik Freeport Indonesia.

"Tambang dalam, tambang emas, itu jenis-jenisnya sudah sama. Memang berbeda di kapasitas, Antam sudah berpengalaman di 3 tambang dalam, ada Cikotok, Gunung Pongkor, Cibalium. Kalau dibandingkan besarnya ya berbeda, tapi kalau ditanya kita mampu nggak ya, kita dilihat di tambang dalam kami. Jadi tambang dalam itu ada underground mining, pasti orang Indonesia tahu, hanya berbeda skalanya, jadi soal divestasi ya kita tinggal tunggu," paparnya,

Saat ini, Tedy menyebutkan, investasi terbesar Antam adalah pembangunan pabrik feronikel di Pomala, Sulawesi Tenggara dengan nilai investasi sebesar US$ 500 juta.

Saat ini, pihaknya telah mendapatkan pinjaman dari Maybank Indonesia senilai US$ 100 juta untuk membiayai pabrik tersebut.

"Investasi terbesar kami itu untuk menyelesaikan pabrik feronikel di Pomala, investasi sekitar US$ 500 juta, jadi itu pengeluaran terbesar," sebut dia.

Tedy menambahkan, pabrik tersebut akan selesai di awal tahun depan dengan kapasitas produksi mencapai 27.000 ton nikel per tahun.

"Rampung di awal tahun depan. Kapasitas total bisa jadi 27.000 ton nikel per tahun," tandasnya.

(drk/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads