Merosotnya harga minyak ini, membuat petaka di industri minyak dan gas (migas). Puluhan ribu orang kehilangan pekerjaan akibat banyak perusahaan bangkrut karena merosotnya harga saham.
Meski demikian, masih banyak pengamat minyak percaya bahwa di tahun depan, harga minyak akan kembali naik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β
Namun, Goldman Sachs meyakini, harga minyak mentah akan bergerak rata-rata ke level US$ 38 per barel pada Februari 2016.
Itu lebih rendah dari rata-rata harga minyak di tahun ini. Hal tersebut diakibatkan karena pemulihan pasar minyak dunia belum juga terjadi hingga saat ini.
Dengan kata lain, pasokan minyak dunia masih jauh di atas permintaannya. Melimpahnya pasokan minyak ini karena lonjakan produksi minyak di Amerika Serikat (AS).
Tapi, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi atau Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), yang dipimpin Arab Saudi, telah memperburuk keadaan dengan terus memompa minyak dan gasnya.
Ini adalah strategi yang dirancang Arab untuk menekan pasar minyak AS. Dalam pertemuan awal bulan ini, OPEC menolak untuk memangkas produksi minyak mereka.
(drk/mkl)











































