Memanfaatkan Gas Bumi

Pakai Gas Bumi Lebih Untung Dibanding Elpiji, Ini Buktinya

Rista Rama Dhany - detikFinance
Minggu, 20 Des 2015 13:51 WIB
Jakarta -

Sadar atau tidak, 67% kebutuhan elpiji seluruh Indonesia dipasok dari luar negeri alias impor. Padahal, Indonesia punya gas bumi yang berlimpah yang bisa digunakan untuk industri dan ibu rumah tangga untuk memasak sehari-hari, harganya pun jauh lebih murah dibanding elpiji.

Sayangnya, berdasarkan data SKK Migas yang dikutip detikFinance, MInggu (20/12/2015), industri baru memanfaatkan 19,2% produksi gas dalam negeri 14,73% untuk listrik, 0,05% untuk transportasi, lebih kecil lagi untuk gas rumah tangga hanya 0,02%.

Padahal, seperti industri, bila menggunakan gas bumi, biaya produksi mereka bisa hemat hingga triliunan rupiah per tahun.

Hal ini seperti yang dialami 118 pelanggan di 9 kawasan industri di Jawa Timur-Jawa Tengah. Mereka sudah menggunakan gas bumi yang dipasok dari PT PGN Regional Distribusi II.

Konsumsi gasnya mencapai 28 juta kaki kubik per hari (mmscfd), dalam setahun industri tersebut dapat hemat Rp 2,06 triliun per tahun, angka yang sangat besar bukan?

Tak hanya industri yang bisa hemat, gas bumi bila digunakan untuk transportasi, juga memberikan dampak penghematan yang cukup signifikan.

Contohnya saja para sopir bajaj Kobagas, mereka sejak beralih dari bajaj yang pakai bensin ke BBG, penghematan yang didapat mencapai Rp 60.000-Rp 80.000 per hari.

Bahkan tidak hanya transportasi, rumah tangga bila beralih dari menggunakan elpiji ke gas bumi bisa hemat sekitar Rp 100.000/bulan.

Berdasarkan data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), rata-rata pengeluaran biaya elpiji rumah tangga mencapai Rp 150.000-Rp 200.000/bulan, sementara bila menggunakan gas bumi hanya Rp 70.000 per bulan.

Pasalnya biaya gas rumah tangga jauh lebih murah dibanding elpiji.

Berikut harga gas bumi ke konsumen di berbagai daerah yang didistribusikan PT PGN (Persero) Tbk:

  • Jakarta, sejak Agustus 2007 harganya antara Rp 2.618/m3 sampai Rp 3.141/m3
  • Bogor, sejak Agustus 2007 harganya Rp 2.720/m3 sampai Rp 3.263/m3
  • Bekasi, sejak Agustus 2007 harganya Rp 2.668/m3 sampai Rp 3.202/m3
  • Karawang, sejak 2007 harganya Rp 2.668/m3 sampai Rp 3.202/m3
  • Palembang, sejak 2007 harganya Rp 2.259/m3 sampai Rp 2.711/m3
  • Surabaya-Gresik harganya Rp 2.496/m3 sampai Rp 2.995/m3
(rrd/drk)