RI Punya Gas Bumi Berlimpah, Kurang Dimanfaatkan Akibat Minim Infrastruktur

Memanfaatkan Gas Bumi

RI Punya Gas Bumi Berlimpah, Kurang Dimanfaatkan Akibat Minim Infrastruktur

Rista Rama Dhany - detikFinance
Minggu, 20 Des 2015 16:21 WIB
RI Punya Gas Bumi Berlimpah, Kurang Dimanfaatkan Akibat Minim Infrastruktur
Jakarta -

Indonesia punya produksi gas bumi yang berlimpah, gas bumi ini bisa digunakan untuk memasak, bahan bakar industri, transportasi hingga pembangkit listrik.

Sayangnya, masih banyak gas bumi yang diekspor karena minim terserap di dalam negeri.

Mengapa minim terserap? Jawabannya karena kurangnya ketersediaan infrastruktur jaringan pipa gas, baik yang ke rumah tangga, industri maupun pembangkit listrik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Produksi gas bumi kita berlimpah, tapi karena kurang infrastruktur makanya banyak yang diekspor. Sementara kita impor elpiji dalam jumlah besar, karena permintaan di dalam negeri terus meningkat. Padahal produksi elpiji kita itu sangat sedikit," kata Kepala Hubungan Masyarakat, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Elan Biantoro, kepada detikFinance, Minggu (20/12/2015).

Ia mengakui, pemerintah memiliki program konversi minyak tanah ke elpiji, program tersebut berjalan baik dan mampu memangkas habis subsidi minyak tanah.

Namun, tentunya pemerintah tidak boleh berhenti sampai di sini saja, karena sekarang subsidi elpiji makin membengkak, sementara gas bumi produksinya berlimpah.

"Gas bumi itu bisa digunakan untuk memasak, tapi kan harus ada infrastruktur. Dari segi pasokan kami (SKK Migas) telah menyediakannya, tinggal infrastruktur yang belum maksimal, kapan program konversi elpiji ke gas bumi digalakkan? Itu wewenang pemerintah. Saat ini kita terpaksa ekspor gas, karena infrastrukturnya belum terpenuhi di Indonesia," jelas Elan.

Tahun depan saja akan makin banyak gas bumi dalam bentuk LNG (Gas Alam Cair) yang diekspor ke luar negeri. Seperti diungkapkan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja.

"Kita akan kelebihan LNG tahun depan. Ada sisa 34 ditambah 14 kargo LNG belum ada komitmen pembeli," ujarnya.

Apalagi, produksi LNG (Liquified Natural Gas) dari Tangguh Train III mulai bisa dihasilkan tahun depan. Hal tersebut akan semakin menambah kelebihan pasokan gas karena belum mampu terserap pasar domestik.

"Apalagi tahun depan nanti jika Tangguh train 3 mulai produksi. Nanti (Tangguh) DMO (Domestic Market Obligation) sampai 80%, sementara komitmen pembeli belum ada. Rata-rata produksinya 16 kargo. Pertamina baru komitmen 4 kargo, ada sisa 12 kargo," tutur Wiratmaja.

Akibat kargo LNG tak terserap di dalam negeri, pemerintah terpaksa harus menjualnya ke luar negeri melalui pasar spot. Harga gas yang dijual juga terpaksa lebih murah.

(rrd/drk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads