Anjloknya harga minyak ini, berdampak besar bagi industri hulu minyak dan gas (migas), ribuan pekerja migas kehilangan pekerjaannya, harga saham anjlok, dan pendapatan perusahaan migas merosot.
"Perjalanan masih panjang. Permasalahan pasokan yang berlebihan ini akan menghantui kita untuk sementara waktu ini," kata Mike Wittner, Global Head of oil research di Societe Generale, seperti dilansir CNN, Senin (21/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berlimpahnya produksi minyak di AS juga tidak membuat, negara-negara produsen minyak dunia yakni OPEC menurunkan produksinya, justru malah menambah produksi minyaknya.
Itu merupakan strategi dari OPEC untuk menekan produsen migas di AS untuk keluar dari pasar minyak. OPEC menolak untuk memangkas produksi sejak pertemuan sebelumnya bulan ini, menguatkan ide untuk tidak menyelamatkan pasar minyak.
Apalagi, dengan kembalinya Iran ke pasar minyak juga membuat produksi minyak makin bertambah banyak lagi.
Kondisi ini justru menguntung bagi masyarakat terutama di AS, karena harga bensinnya lebih murah, atau mendekati US$ 2 per galon.
(rrd/rrd)











































