"Ini hari libur tapi bapak-bapak dan ibu-ibu menyempatkan diri supaya kita bisa hadir di sini. Saya katakan kita satu keluarga besar, kita keluarga besar Freeport Indonesia," ucap Maroef di ruang pertemuan di Rimba Papua Hotel, Timika, Sabtu (26/12/2015).
Hadir dalam pertemuan tersebut yaitu sejumlah perwakilan dari stakeholder seperti LEMASA (Lembaga Masyarakat Adat Suku Amungme) dan LEMASKO (Lembaga Masyarakat Adat Suku Kamoro). Selain itu sejumlah pemangku kepentingan lain juga turut hadir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Maroef juga sempat memberikan sedikit nasihat kepada masyarakat mengenai kebersamaan dan saling pengertian. Memang saat ini Freeport tengah dalam masa tunggu terkait keberlangsungan kontraknya yang belum jelas.
"Sebagai keluarga kan anak jangan selalu minta kepada bapak, 'bapak saya belikan motor' padahal saat itu bapaknya hanya mampu membeli sepeda, kalau kemampuannya tidak seperti itu ya harus kita pahami. Rumah kotor ya di dalam itu bisa membersihkan bersama," ujar Maroef.
Salah satu perwakilan masyarakat yaitu Abraham menyebut bahwa Freeport telah mempunyai komitmen kuat untuk membangun Papua. Dia juga menyadari bahwa saat ini Freeport tengah dilanda ganjalan dan meminta agar kedua kelompok masyarakat adat ikut dilibatkan.
"Dalam situasi seperti ini, Freeport mengalami masalah tapi punya komitmen yang kuat sekali, memberikan dukungan yang luar biasa. Yang kedua itu memang masalah, masyarakat sudah tahu semua, terutama secara pribadi untuk pak Maroef sendiri, bahwa masalah ini sudah terkait dengan Freeport, saya berpesan saja mewakili semua stakeholder, berkaitan dengan perpanjangan kontrak untuk melibatkan kedua lembaga adat, itu yang saya mau pesan, mungkin bapak bisa mengerti soal itu," kata Abraham.
(dhn/ang)











































