Angka dukungan pembangunan PLTN selama 4 tahun terakhir terus meningkat. Meski pada 2011 sempat mengalami penurunan drastis yaitu hanya 49,5% masyarakat mendukung pembangunan PLTN akibat pengaruh kecelakaan PLTN Fukushima Dai-Ichi di Jepang.
Setelah itu, penerimaan masyarakat atas rencana pembangunan PLTN terus meningkat setiap tahunnya yaitu 52,9 % pada 2012, kemudian menjadi 64,1% pada 2013 dan pada 2014 menjadi 72%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebaliknya, masyarakat yang tidak setuju dengan pembangunan PLTN di Indonesia, umumnya dilatar belakangi adanya kemungkinan kecelakaan PLTN dan kebocoran radiasi. Faktor pertimbangan lainnya yaitu PLTN akan menghasilkan limbah radioaktif yang dapat menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan.
Rupanya masyarakat di luar Pulau Jawa lebih menginginkan kehadiran PLTN (79,4%) dibandingkan dengan di Pulau Jawa (72,0%). Hal ini dipengaruhi kondisi kelistrikan di luar Jawa yang masih byar pet.
“Hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia menyadari potensi pemanfaatan energi nuklir dan kontribusinya untuk menjamin pemenuhan dan kestabilan pasokan listrik di Indonesia,” ujar Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto, dalam keterangan tertulis yang diterima detikFinance, Senin (28/12/2015).
Menurut survei, masyarakat ingin BATAN menyiapkan infrastruktur untuk mendukung pemerintah membangun PLTN. Kepala BATAN mengatakan bahwa partisipasi masyarakat merupakan bagian penting dari program energi nuklir nasional, sehingga BATAN berkomitmen untuk terus secara aktif melaksanakan sosialisasi dalam upaya meningkatkan pemahaman publik.
Selain menjaring pendapat masyarakat terkait rencana pembangunan PLTN, BATAN juga melakukan survei pemanfaatan tenaga nuklir. Obyek teknologi sebagai target survei adalah varietas unggul padi dari hasil mutasi radiasi.
Hasil survei menunjukkan, 61,6% responden mempercayai varietas padi hasil teknologi nuklir dapat meningkatkan produktivitas pertanian. Selain itu, menanam padi hasil mutasi radiasi tidak ada kendala yang dihadapi, seperti kesulitan adaptasi dengan kondisi lahan, serangan hama dan penyakit, serta adanya pengaruh iklim.
Secara keseluruhan hasil survei menyimpulkan bahwa dengan menanam padi BATAN, pendapatan petani meningkat rata-rata sebesar 5,6%.
(hns/drk)











































