Hidup di Pedalaman Papua Barat, Tak Ada Listrik PLN Hingga BBM Mahal

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Kamis, 31 Des 2015 12:20 WIB
Sorong - Tinggal di pedalaman Papua bukan perkara mudah. Apalagi, harus mengalami kondisi infrastruktur jalan, komunikasi hingga listrik yang minim. Seperti pengalaman detikFinance bersama rombongan awak media dari Jakarta yang menghadiri rencana peresmian pabrik sagu milik Perum Perhutani oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Distrik Kais, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat.

Akses jalan masih terbatas yakni hanya mengandalkan jalan tanah yang harus ditempuh 3,5-4 jam atau transportasi sungai dan laut dari pusat Kota Sorong Selatan ke Distrik (Kecematan) Kais atau sebaliknya. Selain itu, warga Distrik Kais masih belum teraliri listrik PT PLN. Distrik di pedalaman Papua Barat yang terdiri dari 5 kampung dan berpenduduk 1.527 jiwa ini, hanya mengandalkan genset yang berbahan bakar solar sebagai penghasil listrik.

"Di sini belum ada listrik dari PLN. Kita masih mengandalkan listrik dari genset," Kata Sekretaris Distrik Kais, Yosias Tumana di Kais, Sorong Selatan, Papua Barat Kamis (31/12/2015).

Listrik dengan tenaga solar bukanlah barang murah. Untuk bensin, warga Kais harus membayar Rp 20.000 per liter sedangkan solar Rp 15.000 per liter. Mahalnya harga BBM eceran karena harus dibawa menggunakan jalur sungai dan laut atau darat dari Ibukota Sorong Selatan, Teminambuan. Di Teminambuan sendiri, pasokan BBM juga terbatas karena SPBU hanya buka selama 3 kali dalam 1 minggu.

"Di sini BBM bisa Rp 20.000 per liter. Ini karena jarak jangkauan sehingga bawa BBM mahal. Itu harga eceran di sini," Tambahnya.

DetikFinance pun merasakan saat bermalam dari 29-30 Desember 2015 di Pabrik Sagu yang berlokasi di tepi Sungai Kais. Untuk sampai ke pabrik sagu, kendaraan hanya sampai di dermaga Kais.

Selanjutnya, pindah memakai long boat yang harus ditempuh selama 10 menit. Akses dari pusat Distrik Kais ke pabrik sagu Perhutani atau sebaliknya, hanya bisa memakai long boat karena akses jalan antara pabrik dan pusat Distrik Kais masih tahap pembangunan.

Tak hanya akses jalan yang minim, listrik di area pabrik kerap byar pet atau padam selama beberapa kali karena listrik memakai genset. Bila masuk ke malam hari, listrik beberapa kali padam.

Tak hanya itu, jaringan telekomunikasi hanya mengandalkan sinyal wifi milik kontraktor proyek. Itupun bila banyak pemakaian, sinyak wifi tak berfungsi sehingga harus mencuri waktu saat kondisi sepi. Sinyal komunikasi untuk telpon dan sms sama sekali tidak bisa.

(feb/hns)