Tahun Ini Ekspor Gas RI Makin Berkurang

Tahun Ini Ekspor Gas RI Makin Berkurang

Muhammad Idris - detikFinance
Selasa, 05 Jan 2016 20:14 WIB
Tahun Ini Ekspor Gas RI Makin Berkurang
Jakarta - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan pasokan gas bumi ke dalam negeri tahun ini makin meningkat, atau mencapai 61% dari total produksi gas. Artinya ekspor gas Indonesia akan semakin berkurang.

Kepala Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas, Amien Sunaryadi mengungkapkan, tahun lalu Indonesia mengekspor gas sebanyak 3.063 british thermal unit per day (bbtud) atau 47% dari total produksi gas. Sementara sebesar 3.848 bbtud atau 53% diperuntukan untuk kebutuhan domestik.

"Banyak pihak komplain ke SKK Migas gas kebutuhan domestik kurang tapi selalu diekpor. Kita sudah alokasikan lebih besar daripada buat ekspor, tapi itu tidak terserap," ujar Amien saat konferensi pers di kantor SKK Migas, Menara Mulia, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (5/1/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia melanjutkan, setiap tahun, pihaknya selalu menambah alokasi gas untuk domestik, namun alokasi yang tersedia tidak dimanfaatkan oleh konsumen di dalam negeri.

Maka dari itu, kata Amien, dirinya mempertanyakan pihak yang menyudutkan SKK Migas karena dianggap lebih memilih mengekspor gas ketimbang mengalokasikan ke pasar domestik. Pada 2016, alokasi gas untuk domestik bahkan mencapai 4.144 bbtud atau 61%, sisanya sebanyak 2.561 bbtud dipasok untuk kebutuhan ekspor.

"Banyak yang komplain alokasi gas buat ekspor. Tapi realisasi (domestik) selalu lebih rendah dari alokasi yang diberikan. Giliran sudah dialokasikan, nggak diambil juga, listrik realisasi lebih rendah, pupuk juga sama," jelasnya.

Menurut Amien, rendahnya realisasi gas yang sudah dialokasikan SKK Migas terjadi karena infrastruktur gas yang belum memadai. "Infrastruktur buat terima langsung gas belum ada, jadi yah seperti itu terus," katanya.

Amien mencontohkan, tahun 2015 untuk sektor listrik telah diberikan alokasikan gas sebesar 1.273,23 bbtud, namun hanya dipakai sebesar 939.11 bbtud. Industri dengan alokasi 1.560,91 bbtud hanya dipakai 1.263,17 bbtud. Sementara pupuk yang diberikan jatah 796,96 bbtud hanya dimanfaatkan sebanyak 737,46 bbtud.

Dari sisi pemanfaatan terbanyak, LNG ekspor sebesar 32,1%, industri 18,56%, kelistrikan 13,86%, eskpor gas pipa 12,89%, pupuk 10,89%, LNG domestik 4,41%, lifting minyak 3,99%, LPG domestik 3,12%, dan gas kota 0,03%.

"Pasokan gas domestik harus terus ditingkatkan. Frame-nya juga penggunaan gas domestik meningkat, makanya 2016 kita tambah alokasinya, sekarang bagaimana infrastruktur gas juga bisa terbangun," tutupnya.

(rrd/rrd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads