Guncangnya bursa saham China, serta melimpahnya pasokan minyak dunia menjadi pemicu penurunan tersebut.
Tingkat tertinggi harga minyak terjadi di Juni 2014, masih di atas US$ 100 per barel. Hingga saat ini, harganya sudah turun lebih dari 70%. Kondisi ini jelas menjadi menyakitkan perusahaan minyak dan negara yang pendapatannya bergantung pada penjualan minyak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sentimen negatif menurunkan ekspektasi soal perbaikan permintaan minyak, melemahnya pertumbuhan ekonomi China dan melimpanya stok bensin di Amerika Serikat (AS), membuat harga minyak turun," kata Pengamat Energi dari ABN Amro, Hans van Cleef, dilansir dari Reuters, Kamis (7/1/2016).
Harga kontrak berjangka minyak jenis Brent turun lebih dari 5% hari ini, atau US$ 2 per barel, ke tingkat terendahnya di US$ 32,16 per barel. Ini merupakan harga terendah sejak April 2004. Namun Brent naik ke US$ 32,87 per barel.
Sementara minyak produksi AS, yaitu West Texas Intermediate (WTI), harganya turun 5% lebih ke tingkat terendahnya di US$ 32,1 per barel. Ini merupakan tingkat terendah sejak akhir 2003. Namun WTI naik ke US$ 32.87 per barel.
Data pemerintah AS menyebutkan, pasokan bensin di AS mencapai 10,6 juta barel. Ini stok tertinggi sejak 1993.
(dnl/rrd)











































