Saat ini Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) yang sebentar lagi akan berubah nama menjadi Kabupaten Kepulauan Tanimbar menjadi daerah termiskin nomor 2 di wilayah Provinsi Maluku. Diharapkan dengan adanya proyek gas Masela, status termiskin MTB akan segera berubah menjadi lebih baik.
Ini menjadi harapan Menteri ESDM Sudirman Said dan juga pihak DPRD dan Pemda MTB. Ketua DPRD MTB Simson Loblobly berharap proyek Blok Masela segera direalisasikan. "Saat ini MTB menjadi daerah termiskin nomor 2. Dengan adanya proyek ini, diharapkan nasib daerah kami akan jadi lebih baik," kata Simson saat bertemu Sudirman Said di kantor DPRD MTB, Saumlaki, Jumat (8/1/2016).
Simson juga berharap untuk memajukan MTB, investasi-investasi juga akan masuk ke MTB seiring beroperasinya Blok Masela. Selama 16 tahun kabupaten ini berdiri, belum satu pun ada investasi yang masuk ke kabupaten yang berpenduduk 110 ribu jiwa ini. Potensi bisnis di kawasan ini sebenarnya banyak, terutama perikanan. Menurut Simson, MTB juga berpotensi menjadi industri garam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pertemuan dengan pimpinan DPRD dan jajaran pejabat Pemda, Sudirman Said yang didampingi Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi, berpesan agar keinginan mereka untuk menumbuhkan perekonomian di MTB bisa berhasil, maka Pemda dan DPRD untuk bersiap-siap menyambut proyek ini. "Tolong siapkan SDM dari sekarang. Coba disiapkan anak-anak muda yang akan bisa mengisi tenaga kerja di proyek Blok Masela," pinta Sudirman.
Selain itu, Sudirman juga agar jajaran Pemda dan DPRD juga belajar dari pembangunan Aceh setelah terkena tsunami. Sudirman mengatakan perlu ada badan tersendiri yang akan mengelola uang yang didapatkan dari Blok Masela untuk membangun MTB.
"Bagaimana nanti uang dikelola dengan baik, bersih dari unsur korupsi. Dulu saat saya menjadi bagian dari BRR Aceh-Nias, Aceh bisa bangkit dalam waktu 4 tahun," kata Sudirman.
Sudirman Said juga mengingatkan bahwa proyek gas ini akan habis dalam masa tertentu. Pemda dan DPRD MTB juga harus belajar dari proyek LNG Arun, Aceh. "Jangan sampai setelah 25 tahun proyek gas berakhir, MTB masih menjadi daerah terbelakang. MTB harus tetap maju, pada saat proyek gas masih beroperasi atau nanti pada saat proyek gas sudah selesai," jelas Sudirman.
Lebih lanjut Sudirman menegaskan bahwa MTB tidak perlu ikut-ikutan dengan polemik saat ini apakah proyek Blok Masela dibangun di lepas pantai atau di darat. "Kita tunggu saja keputusan pemerintah pusat. Yang lebih penting, persiapkan segala sesuatunya di sini, jangan sampai ada gangguan-gangguan," pinta Sudirman.
Sementara Amien Sunaryadi berpesan agar pihak MTB tidak hanya mempersiapkan SDM untuk tenaga kerja di Blok Masela. Yang perlu dipersiapkan juga adalah peluang usaha untuk memasok kebutuhan-kebutuhan dalam proyek Blok Masela. "Sebagai contoh, kebutuhan beras, sayur, daging, telur, dan lain-lain ini juga harus disiapkan. Jangan sampai, begitu Blok Masela beroperasi, kebutuhan-kebutuhan ini tidak ada, sehingga bahan-bahan pokok itu diambil dari luar MTB," kata Amien.
Sekilas MTB
Kabupaten MTB merupakan daerah pemekeran yang baru diresmikan pada 1999. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Banda di utara, Laut Timor dan Samudera Pasifik di selatan, Gugus Pulau babar Sermata di barat, dan Laut Arafura di timur.
MTB memiliki luas 53.000 km persegi, yang terdiri dari 10.000 km persegi wilayah darat dan 43.000 km persegi wilayah laut. MTB dikelilingi beberapa pulau terluar, seperti Pulau Larat, Pulau Selaru, Pulau Asutubun, dan Pulau Batarkusu.
MTB memiliki 176 pulau dengan garis pantai sepanjang 1.623 km. Berdasarkan Perpres No. 131/2015, Kabupaten MTB masih dikategorikan sebagai daerah tertinggal dari 8 kabupaten tertinggal di provinsi Maluku. Saat ini Kabupaten MTB menjadi kabupaten termiskin nomor dua di Maluku. Dari dari BPS, angka kemiskinan MTB pada 2014 sebesar 27,75%. Kabupaten ini memiliki anggaran belanja Rp 833 miliar, namun 96,36% masih mengandalkan uang dari pemerintah pusat. PAD MTB hanya 3,54%.
(asy/hns)











































