Harga yang dipatok Freeport tersebut dinilai terlalu mahal oleh publik. Menteri BUMN, Rini Soemarno, juga menyebut harga yang ditawarkan Freeport kemahalan, mengingat harga komoditas tambang sedang anjlok, apalagi keuangan induk perusahaan tambang tersebut berwarna merah alias rugi.
Menanggapi penilaian-penilaian tersebut, VP Corporate Communication PT Freeport Indonesia, Riza Pratama, menyatakan pihaknya telah melakukan analisa. Berdasarkan analisa yang dilakukan Freeport, harga yang wajar untuk 10,64% saham mereka adalah US$ 1,7 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Riza enggan menjelaskan dasar perhitungan dan asumsi-asumsi yang digunakan Freeport untuk mengajukan harga US$ 1,7 miliar tersebut. "Itu harga wajar," imbuhnya.
Pihaknya saat ini menunggu tanggapan dari pemerintah Indonesia. Setelah pemerintah selesai melakukan evaluasi atas harga saham yang ditawarkan Freeport, akan ada negosiasi untuk menemukan kesepakatan harga. "Pemerintah kan sedang mengevaluasi, kita tunggu saja," tutup Riza.
Sebelumnya, Menteri BUMN, Rini Soemarno, menyebut harga saham yang ditawarkan Freeport kemahalan. Dengan harga komoditas pertambangan yang sedang anjlok dalam beberapa tahun terakhir, menurut Rini, harusnya harga saham Freeport bisa jauh lebih rendah.
"Freeport penawarannya ditawarkan ke Pemerintah. Kami sudah minta masukan dari Danareksa, Mandiri Sekuritas. Memang kalau saya lihat saat ini harganya menurut saya terlalu tinggi," tutur Rini.
Rini mengatakan, dirinya belum mengetahui fundamental yang menjadi dasar penetapan harga tersebut. "Saya juga belum mengetahui nilai itu didasarkan atas apa? Apakah berdasarkan kondisi permodalan mereka. Atau kondisi harga komoditas, atau seperti apa? Karena kalau kita lihat dari harga komoditas, harga cooper (tembaga) turun, jatuh sangat banyak," papar Rini.
"Jadi dengan kondisi itu, menurut saya harganya terlalu tinggi," imbuh Rini. (wdl/wdl)











































